Jumat, 07 Desember 2018

PEMIJAHAN IKAN PATIN

PEMIJAHAN IKAN PATIN


Secara umum, pemijahan ikan dapat dibedakan menjadi pemijahan alami dan pemijaha buatan. Pemijahan alami dilakukan terhadap jenis-jenis ikan yang mudah dipijahkan sepanjang tahun, sedangkan pemijahan buatan dilakukan terhadap ikan-ikan yang sulit memijah karena lingkungannya yang tidak sesuai.
Ikan patin termasuk salah satu jenis yang sulit dipijahkan secara alami, karena sulit menciptakan atau memanipulasi lingkungan sesuai dengan habitatnya di alam. Karena itu, pemijahan ikan patin dapat dilakukan secara buatan dengan ransangan menggunakan kelenjar hipofisa.

Persiapan Induk

Induk merupakan salah satu factor penentu keberhasilan usaha pembenihan ikan patin. Induk yang baik dan sehat tentu akan menghasilkan benih yang baik pula. Induk patin yang akan dipijahkan dapat berasal dari alam atau induk-induk yang dipelihara sejak kecil di kolam.
Induk-induk yang berasal dari alam tingkah lakunya masih liar dan kadang –kadang memiliki banyak luka akibat meronta-ronta saat penangkapan. Karenanya, induk yang baik dipijahkan adalah induk yang telah dipelihara di kolam atau di wadah lainnya, seperti sarang dan jaring.
Untuk mendapatkan induk patin yang baik, lama pemeliharaan di kolam, induk diberi makanan tambahan yang cukup mengandung protein. Berdasarkan hasil penenlitian yang dilakukan oleh para peneliti dalam rangka untuk memepercepat kematangan gonad, 2 kali seminggu patin perlu diberi ikan rucah atau ikan-ikan yang tidak layak dikonsumsi oleh manusia.

Seleksi Induk yang Matang Gonad

Induk ikan patin yang akan dipijahkan diseleksi terlebih dahulu, yaitu dengan memeilih induk-induk betina dan jantan yang matang gonad atau siap pijah. Penangkapan induk dilakukan dengan mengurangi volume air sampai ketinggian 20 cm dari dasar kolam. Penangkapan induk dapat dilakukan secara hati-hati untuk menghindari terjadinya stres. Penangkapan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan menggunakan jaring dan dengan menggunakan tangan.
Ciri-Ciri induk ikan patin yang matang gonad sebagai berikut :
Ø  Indu Betina :
Umur kurang lebih 3 tahun, berat minimal 1,5-2 kg per ekor, perut membesar kearah anus, perut terasa lembek dan halus bila diraba, alat kelamin membengkak dan berwarna merah tua
Ø  Induk Jantan :
      Umur minimal 2 tahun, berat 1,5 - 2 kg per ekor, kulit perut lembek dan tipis, alat kelamin membengkak dan berwarna merah, keluar cairan sperma jika perut diurut kearah anus.
Selain ciri-ciri diatas, induk ikan patin yang akan dipijahkan harus sehat secara fisik yaitu tidak terinfeksi penyakit dan parasit juga tidak memiliki luka akibat benturan, pukulan, goresan/ sayatan. Induk yang baik juga harus memiliki sifat pertumbuhan relatif cepat serta resisten terhadapa penyakit, tetapi toleran atau mudah beradaptasi dan responsive terhadap perubahan lingkungan dan makanan.
Seleksi induk patin tidak memperhatikan bagian luar fisiknya. Pasalnya, yang paling menentukan keberhasilan pemijahan adalah tingkat kematangan telur. Telur yang sudah matang dapat dicek dengan cara sebagai berikut :
-          Ambil 1 ekor induk patin betina, sedot telurnya dengan menggunakan selang kateter. Caranya selang dimasukan kedalam kloakasedalam 3 cm, lalu ujung selang lainnya disedot dengan mulut sampai tampak beberapa butir telur di dalam selang.
-          Telur didalam selang tadi disimpan dicawan, kemudian ditetesi larutan secara ( campuran formalin, alkohol, dan larutan asetid dengan perbandingan 6 : 3 : 1). Larutan tersebut berfungsi untuk mengetahui telur yang telah matang. Telur yang matang memiliki ciri tampak bulat, warnanya putih kekuning - kuningan, inti telurnya terlihat jelas terpisah dari cangkangnya.
-          Induk-induk patin yang telah matang telur disimpan didalam bak atau hapa, jantan dan betina tersimpan terpisah.

Induced Breeding (Kawin suntik)

Ikan patin termasuk salah satu jenis ikan yang sulit memijah secara alami jika tidak berada dihabitat aslinya. Untuk itu perlu dilakukan pemijahan sistem induced breeding (kawin  suntik). Tingkat keberhasilan pemijahan sistem kawin suntik sangat dipengaruhi oleh tingkat kematangan induk patin. Faktor lainnya yang juga cukup berpengaruh adalah kualitas air, penyediaan makanan yang berkualitas dan dalam jumlah yang mencukupi, serta kecermatan didalam penanganan atau pelaksanaan penyuntikan.
Induced breeding dapat dilakukan dengan menggunakan kelenjar hipofisa ikan lain, seperti ikan mas, dapat juga dilkaukn dengan menggunakan semacam kelenjar hipofisa buatan yang mengandung hormon gonadotropin. Dipasaran dikenal dengan merek dagang ovaprim.
a.      Menggunakan Kelenjar hipofisa Ikan Mas
Urutan pekerjaan yang dilakukan jika menggunakan kelenjar hipofisa sebagai berikut : 
-          Siapkan ikan donor atau ikan yang akan diambil kelenjar hipofisanya. Jika induk patain betina yang akan di suntik memiliki berat 3 kg maka donor yang digunakan 9 kg sedangkan untuk induk jantan yang memiliki berat 3 kg donor yang digunakan sebanyak 6 kg
-          Ikan mas yang akan diambil kelenjar hipofisanya dipotong tegak lurus atau vertikal dibagian belakang tutup insang
-          Potongan kepala diletakan dengan posisi mulut menghadap keatas, kemudian dipotong vertical dari permukaan sedikit diatas mulut sehingga akan nampak organ otak yang dilingkapi lendir atau lemak.
-          Otak dilingkar dan lendir dibuang atau dibersihkan dengan kapas atau tissue. Setelah bersih dari lendir, diotak akan nampak butiran putih seperti beras itulah yang dinamakan kelenjar hipofisa.
-          Kelenjar hipofisa diambil dengan menggunakan pinset dan dihancurkan dengan menggunakan gelas penggerus sampai halus. Untuk memudahkan penyuntikan, kelenjar hipofisa tadi dilarutkan kedalam akuabides sebanyak 2 ml. Agar larutan tersebut benar-benar hancur dan tercampur, gunakan sentrifugal atau pemusing.
-          Larutan kelenjar hipofisa selanjutnya diambil atau disedot dengan menggunakan alat suntik. Penyuntikan dapat dilakukan secara intramuskular dibelakang sirip punggung dengan menggunakan jarum suntik berukuran 0,12 ml
b.      Menggunakan Ovaprim
Urutan pekerjaan yang dilakukan jika menggunakan ovaprim sebagai berikut :
-          Untuk mengetahui dosis ovaprim yang akan digunakan, induk betina dan jantan yang akan dipijahkan ditimbang terlebih dahulu.
-          Dosis penyuntikan induk betina berbeda dengan inguk jantan. Untuk induk jantan diperlukab ovaprim 0,3 ml/ kg sedangkan untuk betina sebanyak 0,5 ml/ kg
-          Penyuntikan terhadap induk betina dilakukan 2 kali pada suntikan pertama dosisnya sebanyak 1/3 bagian dosis total, pada penyuntikan kedua dosisnya sebanyak 2/3 bagian dosis total. Penyuntikan kedua dilakukan 8-10 jam setelah penyuntikan pertama
-          Penyuntikan induk jantan dilakukan sekali bersama dengan penyuntikan kedua induk betina.
-          Untuk menghindari induk berontak pada saat penyuntikan sebaiknya, dilakukan 2 orang
-          Penyuntikan secara intramuskular dibelakang sirip punggung dengan memasukan jarum sedalam kurang lebih 2 cm dengan kemiringan 40 derajad.
-          Induk-induk patin yang telah disuntik disimpan dalam bak atau hapa dengan air yang mengalir.

Stripping dan Pembuahan

Ovulasi adalah tingkat kematangan gonad. Saat ovulasi, telur yang telah masak harus dikeluarkan dengan cara memijit bagian perut patin betina. Urutan pekerjaan stripping sebagai berikut :
-          Sediakan wadah untuk menampung telur, berupa baskom, plastik, yang telah dibersihkan dan dalam keadaan kering.
-          Induk betina yang akan distripping dipegang dengan kedua belah tangan, tangan kiri memegang pangkal ekor dan tangan kanan memegang perut bagian bawah. Ujung kepala induk patin ditopangkan dipangkal paha, selanjutnya perut diurut secara perlahan-lahan dari bagian depan kearah belakang dengan menggunakan jari tengah dan jempol, lalu telur-telur tersebut ditampung didalam baskom.
-          Induk jantan ditangkap untuk diambil spermanya. Sperma ini nanti akan dicampurkan dengan telur-telur didalam baskom
-          Pengurutan induk jantan pada prinsipnya sama saja dengan pengurutan induk betina. Sperma yang keluar dari perut induk jantan langsung disatukan dengan telur yang ditampung diadalam baskom
-          Agar terjadi pembuahan yaitu telur dan sperma dapat dicampur dengan sempurna, lakukan pengadukan dengan menggunakan bulu ayam kurang lebih selama 0,5 menit. Pengadukan dilakukan berputar perlahan-lahan didalam baskom.
-          Untuk meningkatkan fertilisasi (pembuahan), kedalam campuran telur dan sperma tadi dapat ditambahkan garam dapur sebanyak 4000 rpm. Penambahan dilakukan sambil tetap mengaduk campuran dan disertai dengan memasukan air sedikit demi sedikit. Pengadukan dilakukan kurang lebih selam 2 menit.
-           Untuk membuang kotoran berupa lendir perlu dilakukan penggantiaan air bersih sebanyak 2 – 3 kali. Untuk menghindari terjadinya penggumpalan pada telur perlu dilakukan pencucian dengan menggunakan larutan lumpur. Lumpur dapat membersihkan lendir-lendir yang menempel  dan memisahkan telur-telur yang menggumpal. Lumpur yang digunakan berupa lumpur atau tanah dasar kolam atau tegalan yang dipanaskan pada suhu 100 °C terlebih dahulu guna menghindari penyakit.
-          Telur-telur yang telah dibuahi akan megalami pengembangan. Ukuran telur terlihat lebih besar serta berwarna kuning. Telur-telur yang tidak dibuahi akan berwarna putih dan mengendap dibawah.

Proses Penetasan Telur

Wadah penetasan telur berupa corong-corong penetasan. Untuk menjamin keberhasilan penetasan corong penetasan dipersiapkan 1 hari sebelum pemijahan. Langkah – langkah persiapan wadah penetasan telur sebagai berikut :
-          Semua wadah di unit pembenihan patin seperti penetasan telur, tempat perawatan larva, bak filter air, bak penampungan air bersih, water Turen, dicuci bersih dan dikeringkan
-          Untuk menghindari kontaminasi jamur atau bakteri corong-corong penetasan telur dapat pula direndam dalam larurtan PK sebanyak 5 ppm selama 30 menit.
-          Setelah semua wadah dipersiapkan langkah selanjutnya adalah memasukan air bersih kesemua wadah. Pompa isap yang berfungsi untuk mengalirkan air dari wadah penempungan air bersih ke water Turen dijalankan, sehingga akan terjadi sirkulasi air diseluruh wadah unit pembersihan patin
Telur-telur ikan patin yang akan ditetaskan dituangkan kedalam corong penetasan lalu disebarkan dengan menggunakan bulu ayam. Air pun harus dialirkan dengan cara mengatur debit air dengan menggunakan keran agar telur selalu terangkat didalam corong tersebut. Jangan samapai telur menumpuk didasar corong. Jika menumpuk telur dapat membusuk kepadatan telur sebanyak 400-500 butir perliter air atau 10.000 – 20.000 butir per corong. Telur yang dibuahi akan berkembang sedikit demi sedikit dan menetas menjadi larva.

Penampungan Larva Sementara

Benih patin yang baru menetas yang dikenal dengan sebutan larva ditampung sementara ditempat penampungan larva. Tempat penampumngan larva berupa hapa (Trilin) yang dipasang didalam bak penampunagan larva. Hal tersebut dimaksudkan guna memudahkan pemanenan larva saat akan dipindahkan ketempat pemeliharaan. Benih-benih patin atau larva yang baru berumur 1 hari yang terbawah arus air dicorong penetasan diambil atau dipanen dengan menggunakan scop net halus secara hati-hati agar benih-benih patin tidak mengalami stres, kualitas air dan tempat pemeliharaan, khususnya suhu atau temperatur, mendekati sama.

Pemeliharaan Benih

Larva yang baru menetas belum sempurnah, tetapi benih tersebut masih memiliki cadangan makanan didalam tubuhnya berupa kuning telur (yolk sack) kelangsingan hidup benih sangat ditentukan oleh kandungan kuning telur serta kualitas air ditempat pemeliharaan benih. Benih-benih patin berenang aktif secara vertikal menuju permukaan air.
Benih yang berasal dari tempat penampungan sementara selanjutnya dipelihara ditempat pemelihaeraan benih. Tempat pemeliharaan benih dapat berupa akuarium/fiber glass. Akuarium atau fiber glass yang akan digunakan sebelumnya dibersihkan dan dikeringkan untuk menghindari terjadinya serangan penyakit. Setiap akuarium yang akan digunakan air bersih serta diberi aerasi guna menambah kandungan oksigen yang terlarut kedalam air. Pengisian air dilakukan 1-2 hari sebelum penebaran benih. Untuk setiap akuarium berukuran 60 x 45 x 30 cm dapat dipelihara benih sebanyak 20.000 ekor. Jika ada pembeli yang akan membutuhkan benih-benih patin tersebut dapat dijual langsung untuk dipelihara atau didederkan ketempat lain.
Benih dipelihara di akuarium atau fiber glass selama 2 – 3 minggu. Selama pemeliharaan, dari hari 1 –10, benih patin diberi makanan tambahan berupa Artemia yang telah ditetaskan ditempat terpisah dan pemberiannya dilakukan setiap 3 - 4 jam sekali. Setelah hari ke 10 benih patin dapat diberi makanan berupa kutu air (Dapnia sp) jentik nyamuk, cacing sutra. Jumlah makanan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan benih, Usahakan jangan sampai ada makanan yang tersisa guna menghindari terjadinya penurunan kualitas air yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian benih.
Selam pemeliharaan lakukan penggantian air bersih 1 – 2 hari sekali atau tergantung pada kebutuhan. Penggantian air dapat dilakukan secara hati-hati dengan cara menyipon atau sambil membuang kotoran yang berada di dasar wadah pemeliharaan dengan menggunakan selang kecil. Penambahan air bersih dilakukan secara bertahap sedikit demi sedikit guna menghindari terjadinya stres pada benih yang dipelihara sampai posisi air mendekati ketinggian semula.   

DAFTAR PUSTAKA
Afriantio, Eddy dan Evi Liviawati. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius. Yogyakarta : 1993
Daelami, Deden. Agar Ikan Sehat. Penebar Swadaya.
Jakarta :2001
Khairuman dan Dodi Sudenda. Budidaya Patin Secara Intensif. Agro Media Pustaka. Jakarta : 2002

Syofan dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Patin Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN TAMBAKAN

PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN TAMBAKAN

Hama Pengganggu dan Pemberantasannya
            Hama dikenal sebagai pemangsa (predator) merupakan organisme hidup yang bisa terdiri dari hewan air ataupun hewan darat.  Hama yang umum ditemukan antara lain ular air, bulus (kura-kura), biawak, sero (lingsang), kodok dan burung.
Pemberantasan yang paling efektif yaitu dengan cara mekanik atau dengan membunuhnya secara langsung bila kebetulan ditemukan dilokasi.  Cara lain yaitu dengan memasang perangkap (ranjau) bagi jenis hama tertentu serta memasang umpan yang telah dicampur dengan racun.
Selain hama, terdapat pula sekelompok hewan yang dapat digolongkan kedalam insekta air.  Kelompok hewan ini banyak ditemukan pada areal pembenihan dan pendederan ikan, terutama menyerang serta memangsa telur dan benih ikan yang masih kecil.  Berikut diantara insekta air yang sering ditemukan pada kolam pembenihan atau pendederan ikan tambakan. 
a.      Kini-kini
Kini-kini hidup dibawah permukaan air, berasal dari capung (ordonata).  Kemampuan menangkap dan memakan mangsanya sangat tinggi dalam waktu yang sangat singkat.  Cara memangsannya mula-mula ikan ditangkap kemudian menghisap darah dan memakan mangsanya dengan cara bertahap.
Pemberantasan
·      Menghalangi capung agar tidak  bertelur  dipermukaan air
·      Mengurangi padat penebaran
b.      Ucrit
Ucrit (peupeundeuyan) merupakan larva dari Cybister atau kumbang air.  Bentuknya memanjang seperti ulat, berwarna kehijauan, panjangnya 3-5 cm.  Mula-mula ikan ditangkap dan dilumpuhkan dengan ujung ekor yang bercabang dua dan tajam.  Ikan digenggam erat, mangsanya dimakan bagian demi bagian dengan cara digigit.
Pencegahan
·    Gunakan sistem filter pada kolam pembenihan maupun kolam pendederean
·    Hindari penebaran ikan pada kolam yang digenangi lebih dari satu minggu
·    Padat penebaran jangan terlalu tinggi
·    Gunakan sumber air yang kira-kira tidak mengandung bibit parasit dan hama
c.       Notonekta
Bentuk maupun ukuran badan notonekta (bebeasan) persis seperti butiran beras dan seluruh dari bawah badannya (perut) berwarna putih.  Hewan ini membunuh mangsanya dengan alat penusuk sekaligus berfungsi sebagai alat penghisap cairan tubuh ikan yang diserang.
Pencegahan
Pemasangan saringan pada pintu pemasukan air.
Pemberantasan
·    Percikan minyak tanah keseluruh permukaan air kolan sebanyak 0,5 l/50 m2 luas permukaan air
·    Penyemprotan kolam menggunakan insektisida dengan dosis 0,5-1,0 ml/m2 air dan biarkan selama 24 jam.
Parasit Penyebab dan Pemberantasannya  
Penyakit ikan mudah sekali ditularkan dari satu ikan terhadap ikan lainya melalui kulit, insang, dan terutama melalui air sebagai media hidup ikan.  Penurunan produksi dapat diakibatkan oleh adanya wabah penyakit, hama dan pengganggu.  Penyebab penurunan produksi harus
dikendalikan dan diberantas hingga tuntas tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Adapun jenis penyakit yang menyerang ikan tambakan dapat dilihat pada tabel dibawah ini berikut  pengendalian dan pemberantasannya.

Tabel 1. Penyakit dan gejala

NO
PENYAKIT
SIKLUS HIDUP
GEJALA-GEJALA
1.
Lerneae Sp

 

Secara sepintas menyerupai cacing yang menempel pada ikan dan termasuk udang kelas rendah dengan tiga stadium, yaitu : Nauplius, Cepepodid, Cyplopodid. Pada stadium dewasa bagian kepala berbentuk jangkar yang biasanya menghajam kedalam daging ikan, sedang pada bagian posteriornya terdapat dua kantung telur.
·         Adanya binatang renik mirip cacing pada sekujur badannya termasuk sisik dan matanya.
·         Luka-luka dan  pendarahan pada sekujur badan yang ditempeli parasit ini.
·         Ikan yang terserang Lerneae  kurus karena parasit ini menghisap cairan dalam tubuh ikan.

 

NO
PENYAKIT
SIKLUS HIDUP
GEJALA-GEJALA
2.

Argulus

Bentuk Argulus bulat pipih dan hidup dengan menghisap darah ikan dan dapat berpindah-pindah dari satu ikan ke ikan yang lain. Organ yang diserang parasit ini adalah permukaan perut, sisik, dan biasanya menimbulkan pendarahan pada permukaan kulit ikan.  Argulus juga dapat menularkan penyakit-penyakit ikan yang disebabkan oleh bakteri dan virus.
·         
19
 
Terlihat  iritasi berat, berenang tidak normal dengan kecepatan tinggi.
·         Ikan biasanya menggosok-gosokan badannya pada benda-benda keras,
·         mengkonsumsi pakan berkurang sehingga pertumbuhannya menurun karena sel-sel darah dimakan oleh kutu.  
3.

SaprolegniaSp & Achlya

Keduanya memiliki bentuk hampir sama menyerupai benang-benang yang halus. Perbedaannya Sparogia dari Spralorogenia terbentuk dalam hypae sedangkan Sparogia dari Achlyaterjadi diujung-ujung hypae.
Bila telah terkena inveksi dan tidak segera diobati maka ikan akan menjadi kurus dan akhirnya mati. Karena celium cendawan ini dapat menerobos bagian dalam dan lalu masuk ke otot daging bahkan sampai ketulang-tulang ikan.
4.

Ichtyopthirius multifilis

 

Seluruh tubuhnya diselimuti oleh bulu-bulu halus (cilia) yang dapat digunakan untuk berenang mencari inangnya dengan sebuah nucleus yang bentuknya seperti kacang tanah.
·         Banyak mengeluarkan lendir
·         Terlihat bintik putih pada sirip/ kulit/ insang
·         Sering terdapat pada permukaan air
·         Pertumbuhannya terlambat dan warnanya pucat
Tabel 2. Penyakit, pencegahan dan penanggulangannya
NO
PENYAKIT
PENCEGAHAN
PENGOBATAN
TREATMEN ALAMI
1.
Lerneae Sp

 

Pembuatan filter pada pemasukan air

 

Pencelupan dalam larutan Formalin 25 ml/100 lt air selama 10-15 menit, dan pengobatan ini harus dilakukan 2-3 kali dengan selang waktu 2-3 hari sampai ikan benar-benar terbebas dari Lernaea.
Perendaman dengan menggunakan ekstrak daun sirih atau mahkota dewa. Karena kedua jenis itu mempunyai khasiat anti bakteri dan anti septic.
2.

Argulus inducus

Pengeringan kolam selama 2-3 hari, pengeringan kolam dapat menggunakan CaCo3 dengan dosis 25 kg / ha dan biarkan selama 3 minggu.

 

-Secara Mekanis
Ikan yang terkena infeksi  Argulusnya dapat diambil dengan pinset.
-Secara kimia
Dengan metodaperendaman, menggunakan :
·         Lysol 1:500 ml selama 15 detik
·         DDT 1:1000 ml selama15 detik
Kemudian ikan dimasukan kedalam bak yang berisi air bersih dan mengalir.
Dengan metodadimandikan, menggunakan :
·          
Diberikan ekstrak daun sirih ke dalam kolam untuk membunuh protozoa tersebut.
3.

SaprolegniaSp & Achlya

Malacithe Green 0,5 ppm untuk pengangkutan telur-telur dan benih-benih ikan, sedangkan di dalam kolam dapat melakukan penyemprotan kedalam kolam yang terserang cendawan 3 kali ulangan interval 3 hari sekali.

 

·         Perendaman dalam larutan Malacithe Green 1:200.000 selama 1½ jam
·         Potassium Permanganate 1:100.000 selama 1½ jam
·         Potassium Bichormate 1 : 25.000 selama 1 minggu
Diberikan ekstrak daun sirih yang berfungsi mengobati luka serta membunuh jamur-jamur yang menyerang.
4.

Ichtyopthirius multifilis

 

Ikan-ikan yang baru datang dari luar dikarantinakan terlebih dahulu didalam air mengalir selama 3 minggu.
Kolam yang akan ditebari ikan harus dikeringkan terlabih dahulu selama3 hari.
Pemberian kapur CaCO3nyak 12 ½ kg/ are.

 

Peremdaman dalam NaCl 25 % 10-15 menit
Dilakukan perendaman menggunakan ekstrak sambiloto. Hal ini untuk membunuh parasit tsb karena bersifat anti bakteri.


DAFTAR PUSTAKA
Daelami, D.  2002.  Agar Ikan Sehat.  Penebar Swadaya.  Jakarta
Hardjamulia, A. 1978. Budidaya. Departemen Pertanian Badan Pendidikan dan oenyuluhan Pertanian. SUPM Bogor
Kusumah, H. 1985. Penyakit dan Hama Ikan. Departemen Pertanian Badan pendidikan, Latihan dan penyuluh Pertanian. SUPM Bogor
Susanto, H.  1990.  Budidaya Ikan di Pekarangan. Peenebar Swadaya. Jakarta
Yusmaningsih J. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Ikan Tambakan Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

Minggu, 02 Desember 2018

MANAJEMEN PAKAN PADA BUDIDAYA LELE BIOFLOC (Standart Operational Procedure)

MANAJEMEN PAKAN PADA BUDIDAYA LELE BIOFLOC (Standart Operational Procedure)



1.
Pakan berkualitas kualitas (referensi dari pembudidaya yang sudah mencoba) dan ketersediaan di wilayah sekitar (efisiensi biaya transportasi), pemilihan produk didasarkan pada bukti
2.
Ukuran pakan disesuaikan dengan bukaan mulut ikan, dengan tujuan pertumbuhan ikan rata (racak)
3.
Feeding program (program pakan)



Dari pakan yang dimakan ikan, dihasilkan C organik, N organik, P organik yang dikeluarkan oleh ikan lewat insang (ekskresi) dan sebagian dibuang dalam bentuk feaces (kotoran). Limbah organik ini yang bereaksi membentuk amonia, nitrit dan zat lain yang meracuni ikan dan merusak komposisi media dan berpotensi besar merangsang pertumbuhan bakteri pathogen (penyakit)

-
Porsi makan → daya tumbuh optimum perhari (ADG = Average Daily Growth)


Tabel ini hanya salah salah satu parameter,  porsi makan sangat dipengaruhi oleh :


·   Kondisi alam sekitar
·   Intensitas cahaya matahari yang masuk ke kolam
·   Suhu media (air)
·   Komposisi kimia dan biologi air
·   Jenis benih
·   Teknologi budidaya yang digunakan

-
Porsi makan 80% dari daya kenyang, disediakan ruang dilambung untuk produksi enzym-enzym pencernaan. Diharapkan efisiensi pakan 100% terserap sempurna

-
ikan lele memiliki kodrat mulutnya lebar selebar badan / kepalanya. filosofinya ikan ini rakus makan. ikan akan makan sampai lambungnya penuh. nah bayangkan kalo lambung sudah penuh kemudian pakan mengembang.. apa jadinya?

-
perut/pencernaan akan membengkak, mungkin juga luka. selanjutnya bakteri dalam pencernaan menyerang. biasanya penyakit perut bengkak/kembung karena infeksi bakteri Edwardsiella sp. bakteri ini susah diberantas tuntas karena membentuk cysta

-
efek lain kalau kekenyangan ikan akan terdiam, hati-hati bila terjadi sesuatu yg mengejutkan ikan akan muntah, efeknya air akan rusak dan ikan akan keracunan

-
efek yang lain lagi kalau ikan diam menggantung parasit akan mudah menyerang (hati-hati bila timbul bintik putih, atau bintik merah) maka akan terjadi kematian yang lumayan banyak. cegahlah selagi bisa dgn menerapkan pemberian pakan yg secukupnya saja (80% dari kekenyangan ikan). disamping efisien pakan juga hemat

-
Frekuensi pakan sesuai dengan metabolisme ikan 2 x sehari, metabolisme ikan berkisar 8 jam, bila waktu pemberian pakan 7 pagi dan 5 sore. Maka ada rentang waktu 2 jam untuk istirahat organ-organ pencernaan, dengan tujuan organ pencernaan tetap sehat, ikan pun sehat.

-
Pakan difermentasi menggunakan probiotik EBS Pro untuk menghasilkan enzim : protease, amilase, lipase dan cellulose. Sistem ini meringankan kerja dari organ pencernaan 30%, dan membantu pemotongan rantai panjang pada protein dan lemak.

-
Rutinitas sesuai jam biologis/ naluri (tepat waktu), pemberian pakan yang berubah-ubah jelas mengganggu/merusak jam biologis makan ikan

-
Teknik pergantian pakan, pergantian pakan sangat berpengaruh pada tingkat keseragaman ukuran ikan. Pada saat pergantian pakan sebaiknya di mix/campur dengan ukuran pakan pengganti.

-
Program puasa 1 x makan setiap minggu, bertujuan untuk memberikan kesempatan pada organ pencernaan untuk istirahat. Teknik ini terbukti efektif dan tidak menganggu daya tumbuh ikan

-
Pengurangan porsi makan hingga 30%, bila sudah terbentuk substrat/ polymer/ biofloc yang terjadi bila porsi pakan mencapai 500 kg/ hari/ hektar






-
Target pakan untuk menghindari over size, Setiap siklus target pakan dihitung/disesuaikan dengan jumlah benih yang ditebar dan teknik budidaya yang diterapkan
4.
Pemberian pakan merata dipermukaan
Penebaran pakan merata dipermukaan, untuk pemerataan pertumbuhan, sebab pada benih kecil yang baru ditebar daya jelajah ikan belum luas sehingga ,asing-masing ikan diharapkan mendapatkan porsi makan yang sama

Sumber: 
Komunitas Masamo Pekalongan. 2013. Budidaya Lele Biofloc (Standart Operational Procedure). Pekalongan

TEKNIK PENGGARAMAN IKAN

  Penggaraman merupakan cara pengawetan ikan yang banyak dilakukan oleh pengolah ikan. Ikan yang diawet dengan garam disebut ikan asin. Ga...