Jumat, 17 Agustus 2018

PEMIJAHAN IKAN ARWANA

PEMIJAHAN IKAN ARWANA


Sistematika
  Sistematika arwana golden red menurut Weber dan Beaufort adalah sebagai berikut :
·           Filum                  : Chordata
·           Subfilum              : Vertebrata
·           Kelas                  : Pisces
·           Subkelas             : Teleostei
·           Ordo                  : Malacopterygii
·           Famili                 : Osteoglossidae (Bonytongues)
·           Genus                 : Sclerophagus
·           Species               : Sclerophagus formosus
Morfologi
    Sclerophagus formosus  sekarang dikenal sebagai ikan naga. Secara morfologi ikan arwana memiliki irri sebagai berikut :
·           Tubuh dan kepalanya tampak padat.
·           Tubuh berbetuk pipih dan punggungnya agak datar.
·           Panjang garis lateral atau gurat sisi yang terletak disamping kanan dan kiri tubuh 20-24 cm.
·           Mulut mengarah keatas dan sepasang sungutnya mengarah kebawah.
·           Ukuran mulutnya   lebar dan rahangnya cukup kokoh.
·           Jumlah gigi 15-17 buah.
·           Memiliki tutup insang.
·           Letak sirip punggung berdekatan dengan sirip ekor (caudal).
·           Sirip anus lebih panjang dari pada sirip punggung, bahkan hampir mencapai sirip perut,
·           Panjang arwana dewasa 30-80 cm.
·           Sisik berbentuk bulat, berukuran besar dan permukaannya mengkilap.
Arwana Golden Red memiliki warna dasar kuning keemasan, terutama sisik kepalanya. Batas antara sisik golden red berwarna hitam. Bagian ekor dan sirip belakangnya berwarna kemerahan, tetapi bibirnya tidak bergincu seperti arwana super red. Warna emasnya tidak sampai kepunggung.
Habitat dan Penyebaran
Dihabitat aslinya arwana hidup diperairan tawar. Arwana menyukai sungai yang berarus lambat atau sedang dan rawa atau danau yang berkedalaman 2-3 meter. Arwana lebih menyukai danau yang dasarnya berlumpur, banyak ditumbuhi tanaman air, dan ber-pH agak asam. Daerah penyebaran arwana golden red yaitu  perairan Riau, Jambi, Medan, dan Kalimantan.
Pemilihan Induk
Sebelum arwana dipijahkan sebaiknya calon induk diseleksi terlebih dahulu. Arwana yang akan dijadikan induk harus benar-benar berkualitas. Calon induk arwana hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut :
·      Warna terang dan tidak pudar
·      Sehat, bebas penyakit, dan tidak cacat
·      Mata berwarna hitam dan dikelilingi oleh ring berwarna kuning kecoklatan
·      Tubuh tidak bengkok
·      Tutup insang bekerja sempurna
·      Ukuran tubuh dan kepalanya besar
·      Lubang mulut relatif kecil, tetapi rongga dalam mulutnya besar
·      Pangkal ekor besar dan tebal dengan sirip ekor lebar
·      Sisiknya besar dan tersusun rapi
Teknik Pemijahan
Dalam pemijahan arwana maka diperlukan rangsangan agar arwana mau memijah. Rangsangan tersebut dapat berasal dari luar tubuh atau dari dalam tubuh. Rangsangan dari dalam tubuh berasal dari telur yang matang dan munculnya hormon gonadotrofin  yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa arwana. Rangsangan dari luar tubuh disebabkan oleh bau amis ikan lain yang sedang memijah atau bau amis yang sengaja dibuat. Bau amis dapat dibuat dari telur bebek atau telur ayam yang dikocok dengan air. Perangsang juga dapat dilakukan dengan mengeluarkan petrichor dari tanah.
Pemijahan arwana secara alami adalah melalui pemijahan massal. Pemijahan ini umum dilakukan karena adanya kesulitan dalam menentukan secara pasti jenis kelamin arwana. Arwana dibiarkan pasangannya dan kawin sendiri secara alami.
Proses pemijahan diawali dengan percumbuan yang ditandai dengan kedua ikan saling berkejaran. Kedua induk tersebut saling berenang berdekatan, kemudian meluncur keatas dan secara bersamaan keduanya mengeluarkan sel kelamin. Dalam proses perkawinan tersebut, arwana betina mengeluarkan telur dan arwana jantan mengeluarkan sperma. Setelah terjadi perkawinan, induk betina akan berenang membalik dan menyongsong telur yang telah dibuahi oleh induk jantan. Arwana betina akan memasukkan telur tersebut kedalam mulutnya. Telur tersebut akan melalui masa pengeraman dan penetasan didalam mulut induk betina selama 40-45 hari.
Pemeliharaan Larva
Setelah proses pengeraman selama 40-45 hari, jumlah larva yang dapat dikeluarkan sebanyak 30-50 ekor. Namun, ada juga yang mampu menghasilkan larva hingga 80-120 ekor.
Larva atau benih yang berumur 30 hari masih dipelihara dalam akuarium, akuarium yang digunakan biasanya berukuran 100 x 50 x 40 cm atau yang dapat menampung air sebanyak 100 liter. Akuarium sebaiknya ditempatkan diruang yang bercahaya redup. Akuarium untuk pemeliharaan arwana berisi larva sebanyak 15-25 ekor.
Pemberian Pakan

Larva yang baru menetas tidak perlu diberi pakan karena masih mempunyai egg yolk (kuning telur) sebagai cadangan makanannya. Larva baru diberi pakan setelah berumur 45 hari atau setelah kuning telurnya habis.  Larva dapat diberi pakan berupa kuning telur ayam atau bebek yang telah direbus. Setelah 1 minggu diberi kuning telur, anak arwana dapat diberi pakan hidup yang jinak. Arwana diberi pakan 3-5 kali sehari. Pakan yang diberikan untuk satu anakan arwana adalah dua ekor ikan atau udang untuk setiap pemberian pakan.

DAFTAR PUSTAKA
Bachtiar, Yusuf, Tim Lentera. “Menyingkap Rahasia Penangkaran & Budidaya Arwana”. (Jakarta : Agromedia Pustaka, 2004).
http://www.arowana.com
http://www.google.com/imgres?imgurl=http://www.aqua-fish.net/imgs/fish/silver-arowana-4.jpg&imgrefurl=http://www.aqua-fish.net/show.php%3Fh%3Dsilverarowana&usg=__3eflCbLescuFvEJeDp_v3xYn3EE=&h=600&w=800&sz=38&hl=id&start=6&sig2=UF4Px4UqV2sIpET0bjwfdA&zoom=1&tbnid=-vn0T5shCGGc9M:&tbnh=107&tbnw=143&ei=VeR4UeGeB8bPrQeY8oHQBA&itbs=1&sa=X&ved=0CDYQrQMwBQ
Saluraban H.R. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Arwana Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

ROLADE IKAN

ROLADE IKAN



I.   PENDAHULUAN


Dalam kurun 5 tahun terakhir, konsumsi ikan nasional melonjak hingga lebih dari 1,2 juta ton seiring pertumbuhan penduduk Indonesia yang mencapai 1,34% per tahun. Berkaca pada pertumbuhan penduduk Indonesia, pola konsumsi ikan nasional diperkirakan akan merambat naik. Saat ini, nilai konsumsi ikan nasional telah mencapai kisaran 26 kg/kapita/tahun (www.walhi.org.id). Melihat begitu antusiasnya masyarakat Indonesia untuk mengkonsumsi ikan, maka diperlukan suatu upaya agar hal ini dapat dipertahankan bahkan mungkin ditingkatkan. Salah satu solusi yang diperlukan adalah dengan pengembangan aneka produk olahan berbasis ikan (diversifikasi hasil perikanan). 

Fungsi diversifikasi produk perikanan adalah memperbanyak pilihan bagi konsumen sesuai selera dan dapat dijadikan upaya untuk menumbuhkan kebiasaan makan ikan sejak dini. Salah satu faktor yang harus diperhatikan sebagai upaya diversifikasi adalah penerimaan masyarakat, daya beli, serta kebiasaan makan dari masyarakat. Di sisi lain, pengembangan aneka produk perikanan juga merupakan upaya peningkatan gizi masyarakat melalui konsumsi protein gizi ikani.  Selain itu, upaya ini juga untuk meningkatkan nilai tambah produk olahan ikan dan dampaknya ikut meningkatkan pendapatan petani ikan / nelayan / pengolah ikan.  
Pemilihan bentuk diversifikasi produk menjadi perkedel ikan dikarenakan perkedel sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia. Perkedel adalah makanan yang terbuat dari kentangyang dilumatkan lalu dicampur dengan irisan daun bawang dan bumbu-bumbu. Dibentuk bulat-bulat, dicelupkan ke dalam kocokan telur ayam lalu digoreng. Perkedel termasuk makanan yang digemari oleh siapa saja.


II.  TINJAUAN UMUM

2.1.  Produk Bernilai Tambah
            Produk bernilai tambah rendah akan menghasilkan penghasilan kecil. Penghasilan kecil akan menghasilkan konsumsi yang juga kecil. Tidak banyak variasi barang dan jasa yang bisa dibeli orang yang berpenghasilan kecil, sehingga secara kumulatif ekonomi suatu negara tidak akan pernah berkembang pesat. Sebaliknya jika di suatu negara ada industri bernilai tambah tinggi, apalagi kemudian industri ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, maka dapat dipastikan rakyat di negara itu akan sejahtera. Penghasilan tinggi atau orang kaya akan bisa membeli banyak barang dan jasa. Aktivitas ekonomi akan sangat berkembang di situ. Dan efek dari konsumsi orang kaya ini akan bergerak jauh sehingga akhirnya akan mencapai pedagang kecil juga.
Sektor perikanan memegang peranan penting dalam perekonomian nasional terutama dalam penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan bagi nelayan, sumber protein hewani dan sumber devisa.
Dengan 2/3 wilayah Indonesia terdiri dari laut, maka laut di Indonesia mempunyai potensi perikanan sebesar 6,25 juta ton/tahun. Di tahun 2000, total produksi perikanan 5,1 juta ton, dimana 75 % (3,8 juta ton) berasal dari tangkapan laut. Bila dilihat dari tingkat pemamfaatan, terutama untuk ikan-ikan non ekonomis belum optimal. Hal ini karma pemanfaatannya masih terbatas dalam bentuk olahan tradisional dan konsumsi segar. Deengan keadaan tersebut ikan-ikan tidak ditangani dengan baik dikapal yang menyebabkan ikan didaratkan bermutu rendah (20-30%).
Usaha pengolahan hasil perikanan merupakan kegiatan yang sangat strategis karena selain jenis ikan sangat banyak,juga jenis olahannyapun sangat bervariasi. Oleh karma itu usaha pengolahan hasil perikanan memang sangat menguntungkan,karena dalam pembuatanya kita dapat menggunakan berbagai jenis ikan, dan campuran bahan yang dapat disesuaikan dengan kwalitas maupun harga jualnnya,sehinggamampu melayani pesanan/order dari berbagai kalangan masyarakat dan usaha tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja tampa harus melalui pendidikan formal khusus.
Oleh karnanya dapat dijadikan suatu alternatif untuk membekali ketrampilan masyarakat agar dapat membuka lapangan kerja atau lapangan berusaha, karma selain cara pembuatanya mudah, juga tidak memerlukan modal besar dan bias dengan menggunakan peralatan sederhana. Tentunya jika ingin menngembangkan usaha tersebut hingga skala menengah atau industri diperlukan peralatan khusus dan modal yang cukup.
Tujuan Pengembangan Produk Bernilai Tambah:
1.    Meningkatkan nilai jual ikan sebagai bahan baku.
-          Meningkatkan taraf hidup nelayan
-          Mengurangi kerusakan dan penggunaan bahan berbahaya.
2.    Meningkatkan nilai jual produk
-          Meningkatkan taraf hidup pengolah
-          Mengurangi penggunaan bahan berbahaya
3.    Meningkatkan konsumsi ikan sebagai bahan pangan.
-          Meningkatkan jumlah dan gizi ikan (kwalitas dan kwantitas)
-          Meningkatkan kecerdasan anak-anak sebagai generasi penerus
4.    Meningkatkan jaminan keamanan dan mutu
5.    Meningkatkan devisa Negara.

2.2.  Fish Jelly dan Produk Turunannya
Pada dasarnya hampir semua jenis ikan dapat dimamfaatkan menjadi suatu produk olahan yang bernilai harga jual tinggi tetapi pada umumnya yang digunakan adalah dari jenis ikan non ekonomis karena diharapkan akan memberikan nilai tambah terhadap bahan baku tersebut atau biasa juga digunakan jenis ikan lainnya seperti ikan hasil tangkap samping (by catch) dari kapal-kapal penangkap. Salah satu contoh pengembangan pengolahan produk bernilai tambah adalah pembuatan daging lumat (mince), yaitu produk yang dibuat dari ikan segar dan digunakan sebagai bahan baku surimi atau produk olahan surimi (bakso, sosis, kaki naga ikan dll), dan pembuatan surimi yaitu produk yang dibuat dari daging lumat ikan yang telah mengalami pencucian dan penambahan bahan antidenaturasi (gula dan polyposphat).
Bahan baku yang berasal dari jenis ikan domersal secara umum baik untuk dibuat surimi dan fish jelly produk karma rata-rata jenis ikan ini merupakan ikan berdaging putih, pada umumnya ikan berdaging putih mempunyai kemampuan pembentukan gel yang cukup baik.
Selain jenis, kesegaran ikanpun sangat berpengaruh terhadap kualitas prodik produk fish jelly dari ikan air laut adalah: pisang-pisang (oreochromis sp), kuniran (upeneus sulphureus), gulamah (pseudociena amoyensis), beloso (sauria tumbil), mata besar / swangi (priacanthus tayenus), sedangkan air tawar seperti: gabus (ophiocephalus sp), patin (pangasius sp), nila merah (tilapia sp). Jenis bahan baku lain yang dapat dimamfaatkan sebagai surimi dan produk fish jelly adalah sisa hasil produksi (by process) dari olahan lain/steak tuna dan marlin yaitu berupa tetelan daging ikan.
Rolade adalah makanan yang terbuat dari daging sapi atau ayam yang dicampur dengan bahan-bahan seperti sayuran yang dibungkus dengan dadar telur. Kemudian cara penyajiannya dapat dengan cara dikukus atau di goreng, kemudian bisa disiram dengan saus. Rolade ikan sebagai salah satu produk fish jelly belum banyak dikembangkan. Padahal rolade sapi atau ayam sudah sering ditemui pada saat jamuan makan atau pesta. Ikan adalah bahan baku yang memiliki kandungan protein yang sangat tinggi serta asam amino essensial yang lengkap dibandingkan dengan sapi atau ayam. Daging ikan mudah dicerna dan mengandung asam lemak tak jenuh dan kadar kolesterol yang sangat rendah. Bertitik tolak dari hal diatas, maka perlu dibuat suatu pengembangan produk rolade dengan memanfaatkan ikan sebagai bahan bakunya.


III.  PENGOLAHAN ROLADE IKAN

            Bahan utama yang digunakan adalah surimi dari jenis ikan Swangi (Priacanthus tayenus).  Bahan tambahan yang digunakan adalah tepung tapioka, wortel cincang, bawang putih, lada bubuk, telur dan garam.  Peralatan yang digunakan adalah timbangan, alat pengukus, talenan, pisau, dan food processor.  
            Tahap-tahap pembuatan rolade ikan adalah sebagai berikut :
a.  Surimi dilumatkan bersama dengan garam (2%) ke dalam food processor.
b.   Bahan-bahan lain seperti tepung tapioka 10%, wortel cincang 20%, bawang putih 6%, dan lada bubuk 2%, putih telur secukupnya dimasukkan ke dalam adonan, sampai homogen
c. Adonan kemudian dicetak dengan bahan pelapis luar kulit telur dadar dan kertas roti
d. Adonan digulung dan kemudian dikukus selama ± 20 menit atau sampai matang
e. Setelah matang, biarkan dingin kemudian dipotong-potong bundar atau elips sesuai selera.

Skema Pengolahan Rolade Ikan

                
         Gambar 1. Skema Pengolahan Rolade Ikan



Tabel 1.  Hasil Analisa Kimia dan Mikrobiologi Rolade Ikan

No
Parameter
Hasil
1
Kadar air (%)
78,92
2
Kadar Protein (%)
9,87
3
Kadar Lemak (%)
2,83
4
Kadar Abu (%)
0,79
5
Kadar Karbohidrat (%)
7,59
6
Staphylococcus (cfu/g)
             negatif
7
TPC (cfu/g)
< 10













Tabel 2. Analisa Usaha Perkedel Ikan

A.  MODAL USAHA
No
Jenis Modal
Kebutuhan
(buah)
Harga Satuan
(Rupiah)
Total Harga
(Rupiah)
1.
Meja kerja
2
100.000
200.000
2.
Timbangan
2
500.000
1.000.000
3.
Pengaduk kayu
2
2.500
5.000
4.
Pisau
5
7.500
37.500
5.
Dandang pengukus
4
30.000
120.000
6.
Kompor gas
2
300.000
600.000
7.
Talenan
2
25.000
50.000
8.
Silent cutter
1
10.000.000
10.000.000
9.
Waskom plastik
3
5.000
15.000
10.
Sodet
5
1.500
7.500
11.
Sealer
1
1.000.000
1.000.000

Total per tahun



13.035.000

Total per bulan


1.086.250





B.  MODAL KERJA
No
Jenis Modal
Kebutuhan

Harga Satuan
(Rupiah)
Total Harga
(Rupiah)
1.
Surimi
150 kg
25.000
3.750.000
2.
Wortel cincang
11.250 g
20/gr
225.000
3.
Bawang putih
3.000 g
15/gr
45.000
4.
Garam
1.050 g
10/gr
10.500
5.
Lada halus
450 g
15/gr
6.750
6.
Putih  telur
 2.500 g
17/gr
42.500
7.
Tepung tapioka
7.5 kg
11.000/kg
82.500
8
Telur
63 kg
17.000
1.071.000
10.
Tabung gas
2
75.000
150.000
11.
Kemasan plastik
600 bks/(1/2 kg)
50
30.000
12.
Tenaga Kerja
2 orang
500.000
1.000.000

Total per bulan


6.413.250

Total modal     = Rp 1.086.250 + Rp 6.413.250
                        = Rp 7.499.500
Proyeksi laba kotor/bulan :
-  Penjualan/ bulan      =  600  bks x Rp 15.000=  Rp  9.000.000
-  Modal                                                          =  Rp   7.499.500
                                    Laba Kotor                 =  Rp   1.500.500

C.  PENYUSUTAN PERALATAN
No
Jenis Modal
Harga
Satuan
Penyusutan
(Bulan)
Jml Penyusutan
(Rupiah)
1.
Meja kerja
100.000
48
2083.33
2.
Timbangan
500.000
48
10416.67
3.
Pengaduk kayu
2.500
36
69.44
4.
Pisau
7.500
12
625
5.
Dandang pengukus
30.000
36
833.33
6.
Kompor gas
300.000
36
8333.33
7.
Talenan
25.000
36
694.44
8.
Silent cutter
10.000.000
36
277777.78
9.
Waskom plastik
5.000
36
138.89
10.
Sodet
1.500
12
125
11.
Sealer
1.000.000
48
20833.33

Total penyusutan per bulan

321.930,54

Laba bersih   =  Laba Kotor – Penyusutan
                        =  Rp 1.500.500 –  Rp  321.930,54               
                        =  Rp  1.178.569,46

DAFTAR PUSTAKA

            Dewi,Lelyana. Pengembangan Produk Nilai Tambah Untuk Perikanan Skala Kecil di Prov NAD. Bulletin Pasarikan. 2009.

            http://erwinwirawan.blogspot.com

            Djazuli, Nazori, Istihastuti, Ratnawati.  Teknologi Pengolahan Surimi dan Produk Fish Jelly.  BBPMHP. Jakarta.  1998.

TEKNIK PENGGARAMAN IKAN

  Penggaraman merupakan cara pengawetan ikan yang banyak dilakukan oleh pengolah ikan. Ikan yang diawet dengan garam disebut ikan asin. Ga...