Jumat, 10 Agustus 2018

REPRODUKSI DAN PERKEMBANGBIAKAN BELUT

REPRODUKSI DAN PERKEMBANGBIAKAN BELUT

Seperti telah diketahui bahwa belut memang gembongnya kaum ikan air  tawar, disebut sebagai gembong lantaran ikan ini gemar mencaploki ikan kecil yang masih lembut. Sifat buruk yang lain dari belut adalah kegemarannya merusak dan menggali galungan-galungan sawah, makanya belut ini sering dianggap sebagai hama yang perlu diberantas olah petani.
          Sebagai lauk, belut merupakan jenis ikan yang banyak disukai bahkan dirumah makan Padang goreng dan dendeng belut merupakan hidangan yang banyak digemari, dan bahkan dalam forum international pun belut merupakan sumber protein hewani yang dianjurkan .Berikut ini perbandingan kandungan Gizi Belut dibanding dengan sumber gizi lain seperti telur dan daging sapi.
Tabel 1. Perbandingan zat gizi dalam belut, telur dan daging sapi
NO
ZAT  GIZI
BELUT
TELUR
DAGING SAPI
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Kalori
Protein
Lemak
Karbohidrat
Fospor
Kalsium
Zat  Besi
Vitamin A
Vitamin B1
Vitamin C
A i r
303
14,0  gr
27,0  gr
0,0  gr
200  gr
20  mg
20  mg
1.600 SI
0,10 mg
2,0  mg
58   gr
162
12,8 gr
11,5 gr
0,7  gr
180 gr
54 mg
2,7 mg
900 SI
0,10 mg
0,0   mg
74,0 gr
207
18,8 gr
14,0 gr
0,0 gr
170 gr
11 mg
2,8 mg
30  SI
0,08 mg
0,0  mg
66   gr
Dalam forum international dianjurkan belut sebagai sumber gizi ikan pernah dipromosikanpemasarannya dalam  “ Kongres Gizi Asia III “ di Hotel Indonesia Jakarta pada tanggal 7 – 10 Oktober 1980.

Klasifikasi
Dalam ilmu pengetahuan belut ini termasuk jenis ikan darat/air tawar yang diklasifikasikan :
Class                        : Pisces
Sub Class                 : Teleoski
Ordo                        : Syunbrnchoidae
Famili                       : Syubranchidae
Genus                      : Fluta
Spesies                     : Fluta alba
Jenis ikan yang tidak mempunyai sirip atau anggota lain untuk bergerak, tidak mempunyai sisik, dan kulitnya licin mengeluarkan lendir, mata kecil tertutup kulit, gigi runcing kecil berbentuk kerucut.
Habitat
Ikan ini lebih menyukai hidup didalam Lumpur atau genangan air tawar yang tak mengalir dan tidak betah kena cahaya dan ikan ini juga mampu hidup dalam air dengan kadar oksigen yang sangat rendah. Karena belut mempunyai alat pernapasan tambahan yakni berupa kulit tipis berlendir yang terdapat dirongga mulut, alat ini
Hal lain yang sangat menarik perhatian pada belut adalah kelaminnya yang hemaphrodit, yang mana belut yang berumur muda adalah berjenis kelamin betina(berukuran ± 10-30 cm) sementara yang jantan berukuran lebih panjang lagi (ukurannya diatas 30 cm). Pada dasarnya belut punya kebiasaan makan bersifat Carnivora atau pemakan daging, dimasa kecil suka makan jasad renik dari jenis zooplankton atau zoobenthos. Belut dewasa memakan jenis binatang yang lebih besar lagi seperti larva serangga, cacing , jentik, siput bahkan benih ikan kecil.

REPRODUKSI DAN PERKEMBANGBIAKAN
          Secara alami belut berkembang biak setahun sekali, tapi dengan masa perkawinan yang panjang, yakni mulai dari musim penghujan sampai kepada musim kemarau, perkawinan terjadi pada malam hari dengan suhu ± 20°C, biasanya telur yang telah dibuahi akan dijaga oleh belut jantan dalam sarang sampai menetas dan akan menetas setelah 9 – 10 hari.
Untuk keperluan induk diperlukan dua macam ukuran belut yang berbeda umur, yakni;
·      belut yang panjangnya antara 20 – 30 cm, ini merupakan belut betina yang siap kawin.
·      Belut yang panjangnya sudah lebih dari 40 cm, ini merupakan belut yang berfungsi sebagai pejantan, berfungsi untuk mengambil oksigen dari udara bebas sedangkan insang mengambil oksigen dari dalam air.
DAFTAR PUSTAKA
B. Sarwono, 1987. Budidaya Belut dan Sidat  Seri Perikanan   XVIII/77/87. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.
Departemen Pertanian, 1984.  Penyakit Ikan Air Tawar  oleh Badan Pendidikan Latihan dan Penyuluhan Pertanian, Jakarta.
Gufri dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Belut Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
R.H.Simanjuntak B.Sc.1988. Budidaya Belut. Penerbit Bhratara Karya Aksara Jakarta  1988.

PEMBENIHAN IKAN MASKOKI

PEMBENIHAN IKAN MASKOKI

   
Bisnis ikan hias memang mampu memberikan jaminan keuntungan yang lebih dari cukup bagi petani pengelolanya. Selain harganya yang relatif tinggi siklus pemijahannyapun relatif lebih pendek. Hal ini tidak terlepas dari pengelolaan dan penanganan yang baik pula.
Saat ini, ekspor ikan hias dari tahun ketahun mengalami kenaikan yang signifikan. Apabila dilihat dari volume ekspor pada tahun 1998 yang hanya berjumlah 192 ton dan pada tahun 2002 berjumlah 3.513 ton yang berarti kenaikan pertahun rata-rata sekitar 343,6 % (Dirjen Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan 2003).
          Meningkatnya pemasaran komoditas ikan hias tidak lain karena banyak yang menggemari usaha memelihara ikan hias di akuarium untuk menghiasi ruangan rumah. Melalui jenis, warna, ukuran dan bentuk tubuhnya, ikan hias ini memegang peranan yang penting untuk menambah kesejukan, keindahan, dan kesegaran lingkungan.
          Banyak masyarakat beranggapan bahwa memelihara ikan hias sangat baik bagi kesehatan. Sebagian besar mereka beranggapan bahwa bentuk, warna, sifat, dan gerak-gerik tubuh ikan hias ketika berenang dikolam atau dalam akuarium yang didekorasi dengan apik dapat menentramkan hati, menyembuhkan tekanan darah tinggi maupun stress yang disebabkan karena berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari.
Klasifikasi
Sistematika ikan maskoki adalah :
Kelas              : Pisces
Sub Kelas        : Teleostei
Ordo              : Ostariophysi
Sub ordo        : Cyprinoidea
Famili             : Cyprinidae
Genus             : Carassius
Spesies                     : Carassius auratus
Morfologi Ikan Maskoki
Bentuk luar (morfologi) maskoki memiliki tubuh gendut, punggung agak bongkok, sirip yang lengkap seperti sirip punggung, sirip dada, sirip perut, dan sirip ekor. Bentuk badan maskoki biasanya pendek dan gempal yang menjadi salah satu ciri khas tersendiri.
Habitat dan Kebiasaan Hidup
Maskoki merupakan salah satu jenis ikan hias yang hidup di daerah air tawar. Meskipun cenderung hidup diair tawar yang bersuhu  hangat maskoki dapat hidup diperairan denganm suhu yang berkisar antara 12-20 °C.
Di daerah yang mempunyai 4 musim (musim semi, panas, gugur dan dingin), maskoki melakukan aktifitasnya pada musim semi, yaitu ketika suhu lingkungan mencapai sekitar 12 – 20ºC. sedangkan di daerah tropis, maskoki lebih produktif karena suhu lingkungannya lebih hangat yaitu sekitar 25 – 29ºC, sehingga mampu memijah sepanjang tahun.
Persiapan Bak Pemijahan
Untuk pemijahan maskoki dapat digunakan bak semen atau akuarium. Jika menggunakan bak semen dapat digunakan bak berukuran 100 x 100 x 30 cm, dan jika menggunakan akuarium dapat menggunakan akuarium berukuran 100 x 75 x 50 cm.
Karena ikan maskoki mempunyai sifat yang menempelkan telurnya pada substrat, maka didalam tempat pemijahan harus diletakan substrat untuk menempelkan telurnya. Substrat ini dapat berupa tanaman air seperti eceng gondok, atau bias pula menggunakan kakaban.
Air yang digunakan dalam pemijahan maskoki pada dasrnya sama dengan sumber air bagi jenis ikan hias yang lain. Yang terpenting adalah ikan maskoki menyukai air yang jernih. Sumber airnya bias menggunakan air PAM atau air sumur yang telah diendapkan selama 24 jam.
Pemilihan Induk
      Keberhasilan kegiatan pemijahan tergantung dari kesiapan kematangan induk yang dipijahkan. Untuk memenuhi keadaan tersebut maka seorang pembenih harus mengetahui syarat-syarat calon induk yang layak untuk dipilih menjadi calon induk dan induk. Dibawah ini adalah ciri-ciri calon induk maskoki yang siap dijadikan induk:
1. Umur calon induk minimal 7 bulan, tetapi yang lebih baik berumur 2 tahun.
2. Sehat dan tidak mengalami stress.
3. Tubuhnya tidak ada luka.
4. Tidak sedang terserang penyakit atau parasit.
5. Tubuhnya normal dan tidak cacat.
Perbedaan Induk Jantan dan Induk Betina :
Induk Jantan
v  Pada sirip dada terdapat bintik- bintik bulat menonjol dan jika diraba terasa kasar.
v  Induk yang telah matang jika diurut pelan ke arah lubang genital akan keluar cairan berwarna putih.
Induk Betina
v  Pada sirip dada tidak terdapat bintik-bintik dan terasa halus jika diraba
v  Jika diurut, keluar cairan kuning bening. Pada induk yang telah
matang, perut terasa lembek dan lubang genital kemerah-merahan.
Perawatan Induk
Induk yang terpilih dipelihara secara terpisah dari maskoki lain yang belum dewasa. Hal ini bertujuan agar memudahkan dalam perawatan
Pembenih akan gampang dalam menyeleksi induk yang sudah matang telur dan belum.
      Penempatan induk maskoki dalam bak induk harus cukup mendapat sinar matahari. Tiap bak dilengkapi dengan aerator, kalau perlu dapat dipasang pemanas (Water Heater Thermostat) agar suhu air bak dapat dikendalikan dengan stabiL.
Pemijahan Maskoki
Maskoki menghendaki suasana yang agak gelap dan suhu air dingin. Suhu air yang dikehendaki oleh mas koki dalam melakukan pemijahan berkisar antara 20 - 25ºC. Agar pemijahan sempurna, pasangan maskoki dimasukkan ke dalam wadah pemijahan 2 ekor induk betina dapat dipasangkan dengan 3 ekor jantan unggul yang ukurannya sama. Ikan maskoki akan memijah menjelang subuh, induk jantan akan mencumbu induk betina dengan berenang berputar-putar mengelilingi induk betina. Karena ulah jantan induk betina akan meloncat sambil mengeluarkan telur dan saat itulah ketiga jantan menyusul dengan menyemprotkan spermanya untuk membuahi telur yang dikeluarkan induk betina.
Penetasan Telur
      Dari hasil pemijahan akan tampak ribuan telur yang dibuahi menempel pada substrat yang disediakan, seperti kakaban. Garis tengah telur antara 0,7 - 1,5 mm. Seekor  induk betina maskoki dapat menghasilkan telur 5000 telur dengan rasio penetasan 70-80 % sekali memijah. Telur akan menetas setelah 2 - 3 hari dari pembuahan pada suhu air 25-29º C.
Pemeliharaan Benih
Setelah 2 - 3 hari telur akan menetas, sampai berumur 2 - 3 hari benih belum diberi makan, karena masih mempunyai persediaan makanan pada yolk sac-nya (kuning telur).
Pada hari ke 3 - 4 benih sudah dapat diberi makanan kutu air yang telah disaring dengan cara mengkultur-nya.
Setelah berumur ± 15 hari benih mulai dicoba diberi cacing rambut disamping masih diberi kutu air, sampai benih keseluruhannya mampu memakan cacing rambut baru pemberian kutu air dihentikan.
Ketinggian air dalam bak 10 - 15 cm dengan pergantian air 5 - 7 hari sekali. Setiap pergantian air gunakan air yang telah diendapkan lebih dahulu. Untuk menghindari sinar matahari yang terlalu terik diperlukan beberapa tanaman pelindung berupa eceng gondok.
Panen dan seleksi dilakukan setelah mencapai umur 1 bulan dari usia pemeliharaan benih pada pendederan. Tujuan dari seleksi adalah untuk mendapatkan benih yang berkualitas dari berbagai segi, baik dari segi ukuran, warna tubuh, jambul, ekor, bentuk tubuh dan lain-lain. Hal yang menarik dari ikan hias adalah penampakan tubuh
dari ikan yang dilihat, oleh karena itu seleksi merupakan cara untuk memilih ikan yang berkualitas dan berkelas sehingga harga jual akan tinggi.  
DAFTAR PUSTAKA
Daelami Deden A.S. 2001. Agar Ikan Sehat. Jakarta : Penebar Swadaya
Hermanto, Ning. 2004 Menggempur Penyakit Hewan Kesayangan dengan Mahkota Dewa.  Penebar Swadaya.
Lesmana Darti S dan Iwan Darmawan. 2001. Budidaya Ikan Hias Air Tawar Populer. Jakarta : Penebar Swadaya,
Lesmana Darti S. 2003 Mencegah dan Menanggulangi Penyakit Ikan Hias. Jakarta : Penebar Swadaya

Noryadin U. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Ikan Koki Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

Jumat, 03 Agustus 2018

PEMBENIHAN LOBSTER AIR TAWAR

PEMBENIHAN LOBSTER AIR TAWAR

Lobster air tawar tidak hanya ikan konsumsi, tetapi bisa juga dijadikan ikan hiasan di dalam akuarium sebagai udang hias, lobster memiliki ciri khas yang tidak ditemukan pada ikan hias.  Selain bentuk tubuh yang unik, lobster air tawar yang memiliki warna khas dan beragam.
Lobster air tawar merupakan salah satu genus dari famili parastacidae yang mulai dikembangkan untuk budidaya petani ikan di Indonesia sejak tahun 2000.  Di beberapa negara, seperti Australia, Amerika Serikat, Inggris, Cina, Kostarika, Ekuador, Fiji, Guatemala, Israel, Meksoko, Afrika Selatan, Dan Taiwan, budidaya lobster telah dilakukan sejak tahun 1980.  Di Indonesia, berbagai kajian ilmiah menunjukkan permintaan pasar terhadap lobster air tawar berkuran 5 – 10 cm relatif tinggi.
Secara fisik lobster air tawar memiliki warna dasar yang beragam atau fariatif.  Dari segi teknis, lobster air tawar dapat dipelihara di air tawar yang tidak selalu jernih dengan berbagai variasi wadah.  Jenis pakannya pun relatif banyak dan mudah diperoleh.  Hal yang menarik adalah lobster dikenal memiliki sifat pengembara yang tinggi, warna pada tubuh lobster berkilau, terutama jika terkena cahaya.
Klasifikasi Lobster
Lobster air tawar termasuk dalam kelas crustacea dengan ordo decapoda. Pada dasarnya terdapat famili atau kelaga besar lobster air tawar.  Berikut ini dipaparkan klasifikasi salah satu jenis lobster air tawar dari genus cherax.
Filum               :  Arthrapoda
Kelas                :  Crustacea
Sub kelas         :  Malacostraca
Ordo                :  Decapoda
Famili              :  Parastacidae
Genus              :  Cherax
Spesies                        :  Cherax quadricarinatus

                                       Cherax destruktor

                                       Cherax lorentz
                                       Cherax cairnsensis, dll.
Habitat Dan Penyebarannya
Lobster air tawar yang berasal dari famili astacidae, combaridae, dan parastacidae menyebar di semua benua, kecuali Afrika dan Antartika.  Lobster air tawar astacidae dan cambaridae tersebar dibelahan dunia utara, sedangkan parastacidae menyebar di dunia bagian selatan, seperti Australia, Indonesia bagian timur, Selandia Baru, dan Papua Nugini.  Habitat alam lobster air tawar adalah dana, rawa, atau sungai yang berlokasi di daerah pegunungan.
Morfologi Pada Lobster
Tubuh lobster terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian depan dan bagian belakang. Bagian depan disebut kepala dan bagian belakang disebut badan.  Dilihat dari organ tubuh lobster air tawar memiliki beberapa alat pelengkap :
·      Sepasang antena yang berperan sebagai perasa dan peraba terhadap pakan dan kondisi lingkungan.
·      Sepasang antanela untuk mencium pakan, 1 mulut, dan sepasang capit yang lebar dengan ukuran lebih panjang dibandingkan dengan ruas dasar capitnya.
·      Enam ruas badan agak memipih dengan lebar badan rata-rata hampir sama dengan lebar kepala.
·      Ekor.  Satu ekor tengah memipih, sedikit lebar dan dilengkapi duri-duri halus, serta dua pasang ekor samping.
·      Enam pasang kaki renang
·      Empat pasang kaki jalan.
Jenis dan Pola Makan
Lobster air tawar biasanya aktif mencari makan pada malam hari.  Lobster air tawar termasuk pemakan segala.  Bahan-bahan makanan dari hewani dan nabati sangat disukainya.  Lobster menyukai cacing-cacingan dan pakan buatan.
Lobster termasuk jenis hewan yang tidak rakus.  Kebutuhan pakan lobster sebenarnya sangat sedikit, yaitu hanya berkisar 2-3 gram per ekor lobster dewasa per hari.  Kebutuhan pakan tersebut digunakan untuk pertumbuhan, pergantian sel-sel yang sudah rusak, dan perkembangbiakan.
Pemilihan Calon Induk
Pemilihan induk sebaiknya dilakukan sejak lobster berumur 2-3 bulan.  Pada umur ini lobster mempunyai panjang tubuh 5-6 cm dengan ukuran tersebut berarti proses pertumbuhan lobster berjalan dengan baik.  Selain proses pertumbuhan, yang hars diperhatikan dalam memilih induk yang berkualitas adalah lobster harus memilki nafsu makan yang tinggi, gerakannya lincah, dan warna tubuhnya cerah.
Pemilihan Calon Induk
Calon induk yang sudah dipilih dipisahkan denagn lobster lain dengan memindahkannya ke wadah lain.  Pemindahan ini bertjuan untk emmpermudah pengontrolan.
Dalam pemeliharaan calon induk ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :
·               Wadah pemeliharaan dan kepadatan tebar
·               Pengontrolan dan penyesuaian calon induk
·               Pemberian pakan
·               Pencegahan penyakit.
Kebiasaan Reproduksi
Perilaku lobster air tawar yang cukup menarik untuk diamati adalah aktifitasnya saat perkawinan hingga muncul juvenil.  Tahap awal yang dilaksanakan oleh setiap induk sebagai berikt :
·               Mencari pasangan
·               Melakukan percumbuan antar pasanagan
·               Melakukan perkawinan
·               Induk betina mengerami talur
·               Induk betina mengasuh benih hingga waktu tertentu.
Pemindahan Induk Yang Telah Bertelur
Induk betina yang telah mengeluarkan telur harus dipindahkan ke wadah lain agar telurnya menetas.  Pemindahan ini bertujuan untuk mencegah dimakannya telu-telur oleh induk jantan atau induk betina yang lain, karena pada dasarnya lobster air tawar adalah binatang yang memiliki sifat kanibal.
Penetasan Telur
Telur-telur yang dikeluarkan induk lobster akan menetas setelah sekitar 1 bulan.  Benih-benih akan lepas dari induknya setelah 4-5 hari sejak menetas.
Pemanenan
Pemanenan dilakukan setelah benih berumur 1-1,5 bulan.  Pemanenan dilakukan dengan cara menyipon air dan kemudian benih ditangkap dengan menggunakan scop net.
DAFTAR PUSTAKA
Asriani dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Lobster Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Karjono dan adijaya, Dian. “ lobster akuarium 10 bulan kembali modal “.  Trubus, april 2003.
Sukmajaya yade. “  lobster air tawar komoditas perikanan prospektif “.  Penerbit PT Agro media pustaka, 2003.

Wiyanto, R. “ lobster air tawar, pembenihan dan pembesaran “. Jakarta : penebar swadaya, 2003.

TEKNOLOGI PENGOLAHAN CRACKERS BANDENG

TEKNOLOGI PENGOLAHAN CRACKERS BANDENG



Crackers bandeng merupakan salah satu alternative cemilan kaya protein berbahan dasar terigu dan ikan bandeng, proses pengolahannya dicetak secara manual dan dipanggang. Produk ini dikonsumsi langsung sebagai cemilan.


Bahan:
Ø  
Lumatan daging ikan bandeng
60 g
Atau tepung ikan 15 g
Ø  
Tepung terigu
210 g

Ø  
Tepung tapioca
90 g

Ø  
Margarin
45 g

Ø  
Mentega putih
45 g

Ø  
Susu bubuk
45 g

Ø  
Gula halus
105 g

Ø  
Garam
4,5 g

Ø  
Minyak goring
30 g
(Ditimbang)
Ø  
Fermipan/ragi kue
0,6 g
(dilarutkan dengan sedikit air hangat)
Ø  
Soda kue bubuk
0,6 g

Ø  
Vanili bubuk
0,2 g
(diaduk dengan daging ikan bandeng)
Ø  
Air
± 90 ml
(ditambahkan hingga adonan kalis)

Bahan pengisi lapisan:
Ø  
Tepung terigu
90 g

Ø  
Margarin
30 g

Ø  
Garam
1,2 g


Peralatan:
Ø  
Mixer


Ø  
Timbangan


Ø  
Piring kecil


Ø  
Sodet plastic


Ø  
Penggiling


Ø  
Platik lebar 1 meter


Ø  
Loyang stainless steel


Ø  
Kuas kecil


Ø  
Oven



Cara pengolahan:
1.       Ikan bandeng dipisahkan dagingnya;
2.       Penimbangan bumbu-bumbu;
3.       Proses mixer margarin, mentega dan garam selama 5 menit;
4.       Campurkan daging ikan bandeng ke dalam adonan dan tambahkan vanili bubuk, tepung terigu, susu, soda kue, minyak goring, dan fermipan;
5.       Tambahkan air sedikit demi sedikit hingga adonan menjadi kalis;
6.       Diamkan dan tutup adonan dengan kain basah selama 30 menit;
7.       Siapkan bahan pengisi, tepung terigu margarin dan garam aduk hingga homogeny;
8.       Penipisan adonan dasar dengan alat penggiling;
9.       Pengisian setengah bahan dengan bahan pengisi. Ulangi pengisian sebanyak dua kali;
10.   Diamkan adonan selama 10 menit;
11.   Cetak dan bentuk adonan sesuai yang diinginkan;
12.   Panggang dengan suhu 1500 selama 7 menit, atau 1750 selama 5 menit, atau 2000 selama 3 menit;
13.   Crackers bandeng siap disajikan.

Skema pengolahan crackers bandeng:



Sumber: Balai Besar Pengujian Penerapan Hasil Perikanan (BBP2HP)

TEKNIK PENGGARAMAN IKAN

  Penggaraman merupakan cara pengawetan ikan yang banyak dilakukan oleh pengolah ikan. Ikan yang diawet dengan garam disebut ikan asin. Ga...