Jumat, 14 September 2018

PEMBENIHAN IKAN CUPANG

PEMBENIHAN IKAN CUPANG


Ikan cupang (Betta splendens) bukanlan ikan asli Indonesia, meskipun Indonesia mempunyai ikan yang masih semarga dengan ikan ini yakni Betta fasciatus, alias Stiped fightingfish, yang lebih dikenal dengan nama Tempalo.
Ikan ini  pertama kali ditemukan di perairan Thailand, Malaysia. Sekalipun  dahulu belum mengetahui kehebatanya bertarung, namun salah satu yang sering mendapatkan perhatian adalah sijantan mempunyai warna yang menarik, selain itu juga muda diurus, karena tahan ditempatkan dalam wada yang berukuran kecil serta muda beradaptasi.

Keunggulan cupang untuk bertahan hidup (dan bukan berkembang biak) di tempat sempit tidak bias tidak karena cupang mempunyai lebirinth, yaitu perangkat pernapasan tambahan yang terletak pada sebelah rongga insangnya. Dengan alat canggih nyang konstruktif ini cupang mampu mengkonsumsi osigen langsung dari udara bebas, yang jarang bias dilakukan oleh ikan lain. Kenyataan ini gampang dideteksi apabila kita perhatikan bahwa setiap beberapa menit cupang menyembulkan moncongnya ke permukaan air.
Klasifikasi ikan cupang
Ikan cupangmempunyai daftar klasifikasi yang panjang. Daftar klasifikasi yang popular dengan sebutan sistematika ikan tersebut adalah sebagai berikut:
Filum                : Chordata
Subfilum            : Craniata
Superkelas        : Gnathostomata
Kelas                : Osteichthyes
Subkelas           : Actinopterygii
Superordo         : Teleostei
Ordo                : Percomorphoidei
Subordo            : Anabantoidei
Famili               : Antibantidae
Genus               : Betta
Spesies             : Betta splendens
Morfologi Ikan Cupang
Bettea splendens alam-yang diambil dari alam aslinya merupakan ikan yang mempunyai postur badan memanjang, dan bila diliat dari depan atau dari belakang mempunyai potongan badan yang pipih kesamping (compressed). Sebagai ikan liar, ternyata badannya mirip dengan bunglon, beragam tergantung alam yang membentuknya. Beberapa spesimen yang tergolong cantik mempunyai warna badan dasar coklat kemerah-merahan dengan corak kebiru-biruan. Semua sisi sangat dekoratif dan warnanya sangat beragam. Sirip punggung sangat lebar dan terentang sampai kebelakang, walaupun badannya tidak terlalu besar tapi keliatan kokoh dan menawan. Sirip ekornya berbentuk membulat (rounded) berwarna dasar sama dengan badannya.

Sirip ekor ini strip berwarna dasar sama dengannya. Sirip ekor ini  juga dihiasi dengan strip berwarna sedikit kehijau-hijauan, sering kali ujungnya berwarna oranye. Sirip analnya berwarna hijau kebiru-biruan, juga memanjang, memantapan eksistensinya sebagai ikan jago berkelahi. Sirip anal ini kadang-kadang dibubuhi warna coklat dan merah. Sirip perutnya juga panjang dan warna merah oranye. Hanya saja, ujang siripnya sering kali dihiasi warna putih susu. Ukuran badan ikan cupang ini untuk yang jantan mencapai 5 - 6 cm, tapi untuk betina biasanya ukuran badannya lebih kecil dari badan jantan.
Pemilihan Induk
Induk cupang yang hendak dipijahkan apabila sudah mencapai umur sekitar 6-7 bulan, dengan panjang total antara 5-6 cm. Induk-induk harus sehat, tidak cacat badannya atau mengidap salah satu penyakit. Pejantan belum pernah diadu. Untuk mengetahui betina yang sudah matang gonad dapat diperhatikan perutnya. Selain lebih gemuk dari pada biasanya, pada perut betina sudah nampak dari luar bayangan telur-telurnya. Sedangkan pejantan umumnya akan selalu siap diawinkan asalkan umurnya sudah memenuhi syarat.
Persiapan Wadah
Tempat untuk pemijahan ikan cupang sangatlah mudah, cupang bisa dipijahkan dalam akuarium dengan ukuran 20x20x20 cm, atau dalam bak yang disekat-sekat bahkan dapat dipijahkan dalam toples sekalipun. Wadah pemijahan dibersihkan dan diisi air, kemudian masukkan tanaman air untuk pemempatan telur-telur hasil dari pemijahan.
Pemasukan Induk

 
Setelah persiapan wadah selesai maka induk jantan dapat dimasukkan lebih dahulu agar dapat beradaptasi terlebih dahulu. Setelah itu masukkan induk betinanya, setelah beberapa lama induk jantan akan membuat sarang telur dengan mengeluarkan gelembung-gelembung.
Proses Pemijahan
Pemijahan ikan ini dapat diketahui dengan menyaksikan cupang-cupang tersebut saling berpelukan di tanaman air dan melayang sampai beberapa saat, kemudian akan keluar telur dan akan segera dibuahi oleh induk jantan. Telur-telur yang melayang di dalam air akan segera di tangkap oleh induk jantan untuk disusun di gelembung-gelembung busa yang telah dibuatnya.
Perawatan Benih
Telur-telur akan menetas setelah 2-3 hari, setelah menetas induk ikan diangkat. Benih-benih ikan dapat diberi pakan setelah berumur 4 yaitun kutu air saring. Pergantian air dilakukan 2 hari dengan menyipon kotoran- kotoran yang ada di dasar wadah.
DAFTAR PUSTAKA
Daelami, D.  2002.  Agar Ikan Sehat.  Penebar Swadaya.  Jakarta
Hardjamulia, A. 1978. Budidaya. Departemen Pertanian Badan Pendidikan dan Penyuluhan Pertanian. SUPM Bogor
Hermanto dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Ikan Cupang Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Kusumah, H. 1985. Penyakit dan Hama Ikan. Departemen Pertanian Badan

Susanto, Heru.  1992. Memelihara Cupang. Kanisius.Tanggerang

Minggu, 09 September 2018

PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN GUPPY

PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN GUPPY



Jenis-jenis Penyakit yang Menyerang Ikan Guppy
Penyakit yang menyerang ikan guppy tidak jauh berbeda dengan ikan-ikan hias air tawar lainnya.  Penyakit yang biasa menyerang ikan guppy di akuarium adalah sebagai berikut. 
a.  Penyakit sukar bernapas
Gejala awal yang timbul dari penyakit sukar bernapas ini adalah guppy bernapas terengah-engah tidak teratur, tutup insang terbuka lebar, dan berenang terhuyung-huyung di permukaan air.  Dapat dipastikan ikan tersebut terserang penyakit pada insang.
Bila dilihat dengan mikroskop, pada insang guppy melekat cacing dari golongan trematoda, yaitu Dactylogyrus sp.  Cacing ini terbawa oleh pakan guppy yang kurang higienis.  Cara pencegahan pada penyakit ini, yaitu dengan memperhatikan pemberian pakannya.  Usahakan pakan yang diberikan sudah benar-benar bersih dan higienis.  Namun, ikan yang sudah terserang penyakit ini segera dilakukan pengobatan.  Caranya dengan merendam guppy yang sakit kedalam larutan PK berdosis 0,5 gr / 5 liter air.  Perendaman dilakukan selama 5-10 menit, kemudian ikan dipindahkan kedalam air bersih.  Setelah itu ikan dimasukan kembali kedalam larutan PK. Pengobatan ini terus dilakukan hingga guppy terlihat sudah bernapas normal. 
b.  Penyakit Parasit yang disebabkan Oleh Serangan Lernea dan Argulus
          Lernea dan Argulus termasuk golongan penyakit ekto parasit. Lernea cyiprinacea berbentuk panjang dengan tubuh berwarna kelabu. Bagian ujung tubuhnya terdapat dua buah sungut yang sebenarnya merupakan kantung telur. Sementara Argulus indicusberbentuk bulat seperti kura-kura, dengan tubuh berwarna hijau transparan. Kedua jenis parasit ini menyerang guppy dengan menancapkan kakinya ketubuh ikan, merusak sisik dan kulit, serta menghisap darah ikan. Ikan yang terserang menjadi lemah hingga menemui kematian.
          Lernea dapat diatasi dengan cara menangkap ikan yang sudah terserang, lalu memotong bagian tubuh lernea yang menjorok keluar dengan menggunakan gunting yang tajam.  Cara ini akan menyebabkan lernea mati seketika.  Sementara untuk mengetatasi Argulus juga dengan cara menangkap ikan yang telah terserang dan membuang satu persatu argulus dengan menggunakan pinset. Argulus yang telah terlepas dari tubuh ikan segera dihancurkan.
          Agar ikan yang sudah selesai ditangani tersebut tidak terserang penyakit lain, sebaiknya ikan langsung dimasukkan ke dalam wadah berisi air yang sudah diteteskan Blitz Icth atau Tetra Medica Fungistop. Dosisnya sebanyak 1 – 2 tetes / 2 liter air.
Tabel Penyakit dan Cara Pengobatan
Selain dari penyakit yang disebut di atas, masih ada penyakit yang umum menyerang ikan guppy. Untuk lebih jelas mengetahui penyakit ikan guppy dan cara pengobatannya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1. Parasit yang sering menyerang ikan guppy
NO
NAMA PENYAKIT
PENGOBATAN DENGAN BAHAN KIMIA
1.
Bintik Putih
·   Chloromine 1% 4 – 5 ml dilarutkan dalam air bersih 4,5 liter. Ikan-ikan yang sakit dimasukkan ke dalamnya dengan jangka waktu 25 jam.
2.
Velvet
·   Larutkan Methaline Blue 1% sebanyak 10 mg ke dalam 4,5 liter air bersih. Perendaman dilakukan minimal 24 jam.
·   Larutan potasium permanganate 1% sebanyak 45 ml dicampurkan ke dalam air bersih sebanyak 4,5 liter.
3.
Trichordina
·   Bubuk sodium Chloride sebanyak 75 – 150 gr dilarutkan ke dalam setiap 4 liter air bersih, lama pengobatan berkisar antara 15 – 30 menit.
·   Larutan Quinine hydrochloride berkadar 1 % sebanyak 9 ml yang dilarutkan ke dalam air bersih sebanyak 4,5 selama 12 jam. Setelah itu diulang satu kali lagi dengan dosis yang sama.
4.
Kutu Ikan
·   Ikan direndam di dalam larutan Tetra Medica Fungistop dengan dosis obat sebanyak 1 – 2 tetes/ 2 liter air.
5.
Lernea
·   Larutkan formalin dengan kadar 25 ppm. Lama perendaman tidak lebih dari 10 menit.
Tabel 2. Jamur yang sering menyerang ikan guppy
NO
NAMA PENYAKIT
PENGOBATAN DENGAN MENGUNAKAN BAHAN KIMIA
1
Penyakit putih dimulut (Chondrococus columnaris)
Garam dapur 1% sebanyak 100gr/ liter dan dilakukan perendaman selama 15-30 menit.
2
Jamur saprolegnia
Larutkan acriflavine 0,001% sebanyak 100 ml dimasukan kedalam air bersih. Ikan-ikan yang sakit dimasukan kedalamnya selama beberapa hari hingga jamur rontok.
Tabel 3. Bakteri yang sering menyerang ikan guppy
NO
NAMA PENYAKIT
PENGOBATAN DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN KIMIA
1
Borok atau pendarahan
Dapat menggunakan anti biotik yang diberikan melalui pakan, dan dicampur dengan air.
Garam dapur 1% sebanyak 100 gr/liter dan dilakukan perendaman selama 15-30 menit
2
Fin rot
Dapat digunakan larutan PK dengan dosis 10-20 mg/liter. Rendam selama 30 menit dan dapat diulang bila perlu.
Pengobatan dengan Menggunakan Bahan Alami
Kita telah mengetahui bersama, bahwa telah banyak ditemukan obat-obatan kimia untuk mengobati ikan-ikan yang sakit. Namun, sudah barang tentu bahan-bahan kimia tersebut akan menimbulkan efek samping di kemudian hari. Untuk ikan hias bahan-bahan kimia tersebut tidak terlalu berpengaruh, tetapi sebaliknya untuk ikan-ikan konsumsi.
Apabila ada bahan alami yang dapat dipakai untuk melakukan pengobatan pada ikan yang sakit alangkah baiknya, disamping tidak berbahaya dan harganya tidak terlalu mahal. Oleh karena itu dalam bahasan ini akan dicoba menggunakan bahan alami untuk mengobati penyakit ikan guppy. Bahan alami yang digunakan adalah SAMBANG DARAH (Excoecaria cochinnensis Lour).
Sambang darah berasal dari suku Euphorbiaceae. Nama-nama sambang darah ini berbeda-beda tergantung dari daerah. Mungkin di Indonesia sambang darah lebih dikenal dngan nama daun remek daging, dan ki sambang.
a.  Uraian Tumbuhan
Umumnya, sambang darah ditanam di perkarangan sebagai pagar hidup atau tanaman obat, ditanam sebagai tanaman hias atau tumbuh liar di hutan. Perdu yang tumbuh tegak ini mempunyai tinggi 0.5 – 1,5 meter, dan bercabang Banyak. Sambang darah mudah diperbanyak dengan cara stek batang atau cangkokan.
b.  Sifat dan Khasiat
Sambang darah rasanya pedas, sifatnya hangat. Tumbuhan ini berkhasiat membunuh parasit (Parasitisid), menghilangkan gatal (Antipuritik), dan menghentikan pendarahan (Hemostatis).
c.   Kandungan Kimia
Tanin, asam behenat, triterpenoid eksokarol, silosterol. Getahnya mengandung resin dan senyawa beracun.
d.  Bagian yang digunakan untuk obat dan cara pengobatannya
Bagian tanaman yang digunakan sebagai obat adalah daun, ranting, dan akarnya. Cara pengobatan dengan menggunakan sambang darah ini yaitu dengan merendam ikan yang sakit dengan menggunakan sambang darah yang telah dibuat ekstrak.
v Cara pembuatan ekstrak sambang darah yaitu :
1.  Daun dicuci bersih
2.  Daun tersebut dihaluskan dengan tambahan air sebanya 50 ml untuk 250 gr daun sambang darah.
3.  Setelah dihaluskan lalu disaring dan diambil air
4.  Air yang telah disaring tersebut dan merupakan ekstrak dari daun sambang darah
v Cara pengobatan
        Ikan-ikan yang sakit didipping di dalam larutan ekstrak daun sambang darah sampai ikan tersebut sembuh. Untuk dosis pemberian ekstrak sambang darah belum diketahui secara pasti. Namun dalam bahasan ini kita akan memberikan dosis ekstrak sambang darah sebanyak 0.2 ml / 5 liter air. Ekstrak sambang darah diberikan sesuai dosis setiap hari sampai ikan yang terserang penyakit benar-benar sembuh. Namun, dosis dapat berubah apabila telah dilakukan penelitian
dengan akurat dan ditemukannya dosis yang tepat mengenai pengobatan penyakit ikan guppy dengan menggunakan bahan alami SAMBANG DARAH.
        Agar ikan guppy yang dipelihara cepat sembuhnya, dapat digunakan ekstrak sambiloto sebagai anti biotik, dan sebagai bahan obat untuk menolak serangan penyakit lain. Dosis yang kita berikan sama dengan sambang darah.
DAFTAR PUSTAKA
Dalimartha. S, 2004. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 3. Puspa Swara.    Jakarta.
Eka. B dan Sitorus. P, 2003. Menghasilkan Guppy Kualitas Kontes. Penebar Swadaya. Jakarta.
http://world-aquaculture.blogspot.com/2009/11/guppy-awalnya-hidup-di-rawa-air-payau.html
Lesmana. S, 2003. Mencegah dan Menanggulangi Penyakit Ikan Hias. Penebar swadaya. Jakarta.
Susanto. H, 1990. Budidaya Ikan Guppy. Kanesius. Yogyakarta.
Tambunan N.L. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Guppy Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

Whendrato dan Madyana, 1988. Mengenal Ikan Hias Pemeliharaan, Penyakit dan Pengobatan. Eka Offset. Semarang.

Jumat, 07 September 2018

PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN TAWES

PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN TAWES

Penyakit yang menyerang Ikan Tawes antara lain Gyrodactylus dan Mixobolus spp yang kerap menyerang pada benih sampai ikan dewasa.
GYRODACTYLIASIS
Penyebab                    :Parasit ini termasuk monogenia; Menyerang pada bagian tubuh dan sirip ikan.
Jenis dan ukuran         :Hampir semua jenis ikan air tawar,terutama ukuran benih.
Gejala klinis                :Ikan menjadi lemah, nafsu makan berkurang, frekuensi pernapasan meningkat dan produksi lendir meningkat.
Faktor pendukung       :Kualitas air yang menurun, kekurangan pakan, padat tebar tinggi dan fluktuasi suhu air selalu berubah.
Penularan                   :Melalui air dan kontak langsung dengan ikan yang terinfeksi.
Verifikasi                    :Pengamatan melalui microkopis.
Pencegahan                : - Meningkatkan kualitas air
-   Pemberian pakan tepat mutu dan jumlah yang diperlukan
-   Pengendapan aira dan pemasangan saringan pada pintu pemasukan
Pemberantasan           : - Perendaman dengan larutan larutan garam dapur,
    dosis 12,5-13 gr/m2 selam 24-36 jam
-   Perendaman dengan larutan formalin 40 ppmselama 24 jam
MYXOSPOREASIS
Penyebeb                    : Mixobolus spp, parasit ini; termasuk kelompok myxosporea
Jenis dan ukuran         :Myxobolus spp biasanya; menyerang pada bagian insang saat benih, mulai berumur 1 bulan
Gejala klinis                :Adanya benjolan menyerupai tumor pada insang ikan, bahkan sering disebut penyakit amandel
Faktor pendukung       : Kualitas air menurun dan padat tebar yang tinggi
Penularan                   : Melalui air dan ikan yang mudah terinfiksi.
Verifikasi                    : Pengamatan mikroskopis
Pencegahan                : - Pengendapan air dan pemasangan saringan pada pintu    pemasukan
-   Dilakukan pengapuran dan pengeringan kolam
DAFTAR PUSTAKA
Daelani Deden A.S. Agar Ikan Sehat, Penebar Swadaya Cianjur, 2001.
Dinata Sumanta, K. Pengembang biakan Ikan-ikan Peliharaan di Indonesia. PT Sastra Hudaya, Bogor 1983.
Harja, M.A. Budidaya Ikan Nilem untuk SUPM Budidaya Bogor. Departemen Pertanian Badan Pendidikan dan Latihan Penyuluh Pertanian. Bogor 1978.
Rohmat C. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Tawes Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Sachlan, M. Parasit ,Penyakit dan Hama Buraya Ikan SUPM (Jurusan Budidiya) Bogor, Juni 1975.

PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN JELAWAT

PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN JELAWAT


Penyakit ikan  adalah merupakan suatu keadaan fisik, morfologi, atau fungsi yang mengalami perubahan dari kondisi normal karena beberapa penyebab, dan terbagi atas dua kelompok yaitu penyebab dari dalam (internal) dan luar (eksternal). Penyakit ikan umumnya adalah eksternal.
Penyakit internal dari genetic, sekresi internal, imunodefisiensi, saraf dan metabolik. Penyakit eksternal tergolong dua yaitu non patogen dan patogen.  Non patogen dapat berasal dari lingkungan     (suhu, kualitas air) dan nutrisi ( pakan yang kurang nutrisi atau bahan beracun ) sedangkan patogen yaitu penyakit virus, jamur, bakteri, dan parasit.  Karakteristik infeksi pada ikan yaitu ikan merupakan salah satu hewan air yang selalu bersentuhan dengan lingkungan perairan sehingga mudah terinfeksi patogen melalui air. Infeksi bakteri dan parasit tidak terjadi pada hewan dara melalui perantara udara, namun pada ikan sering terjadi melalui air.  Pada budidaya, air tidak hanya sebagai tempat hidup bagi ikan, tapi juga perantara bagi patogen.  Pencegahan yang harus dilakukan yaitu melaui ikan, dan lingkungannya.  Dalam manipulasi lingkungan yang harus diperhatikan:
1.  Kondisi air
Air merupakan media hidup ikan sehingga untuk menjaga agar ikan tetap sehat perlunya air disaring dengan filter.  Filter tersebut menyaring air dari jenis kotoran yang masuk dan zat – zat yang dapat mengganggu kondisi ikan dan pembawa penyakit.
2.  Pakan
Dalam petumbuhan dan reproduksi selama hidup ikan perlu di berikan pakan alami dan buatan.  Pakan buatan  yang diberikan harus diperhatikan yaitu :
-          Bahan baku yang dibuat haruslah sesuai dengan kebutuhan gizi ikan ,
-          Suhu pada saat penyimpanan haruslah sesuai dengan kondisi kamar sehingga  tidak cepat rusak.
-          Pakan yang diberikan tidak kadarluarsa
-          Pakan yang diberikan terbungkus dan tersimpan dengan rapi   ( tidak kontak dengan lantai ).
3.  Hygienis
Untuk menjaga kondisi ikan agar tidak sakit salah satunya yaitu dengan menjaga dan menggunakan alat–alat dan bahan selama pemeliharaan haruslah desinfektan dan diusahakan pada satu wadah budi daya haruslah mempunyai alat dan bahan sendiri sehingga bila tertular penyakit ,maka wadah lain tidak langsung terkena penyakit.  Selain itu ikan juga harus desinfektan agar dapat menjaga kesehatan ikan agar baik.
4.  Keberadaan Ikan Liar
Ikan liar dalam wadah budidaya dapat sebagai pembawa penyakit, bertindak sebagai competitor, dan sebagai tempat menempel inang (parasit, jamur, bakteri).  Selain sebagai competitor, ikan liar juga dianggap sebagai pesaing dalam pemanfaatan pakan, oksigen dan ruang di dalam wadah budidaya.  Agar ikan liar tidak dapat masuk ke dalam wadah budidaya, pada saluran pemasukan air diberi filter atau saringan. Selain pemasangan saringan, juga perlu dilakukan seleksi benih sebelum benih ditebar.
5.  Vektor Pest Control (VPC)
VPC adalah suatu usaha yang dilakukan untuk pengontrolan organisme hidup sebagai pembawa penyakit pada organisme lainnya, misalnya Argulus sp yang merupakan parasit bagi ikan, walaupun demikian Argulus sp juga dapat diserang oleh parasit lain.  Ikan seribu juga dapat sebagai pembawa penyakit larnea sp bagi ikan-ikan peliharaan.  Vektor tersebut menggangu ikan peliharaan sehingga menyebabkan produksi ikan menurun.
6.  Pengaturan Air
Pengaturan air dilakukan pada wadah budidaya agar air masuk dan keluar seimbang, sehingga kondisi air terjaga sesuai dengan kebutuhan hidup ikan.
7. Tindak Karantina dan Pemusnahan
Karantina merupakan salah satu usaha pencegahan masuk dan ke luarnya ikan yang membawa penyakit dari satu daerah ke daerah lain sehingga penularan penyakit dapat dicegah.  Bila ikan yang baru datang dari tempat lain sebaiknya dipelihara terpisah terlebih dahulu    (1 – 2 hari), dan bila ikan-ikan tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda terserang penyakit barulah ditebar di kolam bersama ikan-ikan lain.
8. Monitoring
Dalam usaha budidaya haruslah dilakukan monitoring secara berkala.  Monitoring ini bertujuan untuk melihat gejala-gejala yang  timbul pada ikan, apakah ikan tersebut sakit atau tidak.  Misalnya dari perubahan tingkah laku, penurunan nafsu makan dan perubahan warna tubuh.
9. Saluran Air
Saluran air juga dapat berperan sebagai faktor pendukung dalam penyebaran penyakit.  Saluran air yang baik digunakan untuk menghambat penyebaran penyakit adalah saluran dengan system paralel, karena apabila kolam yang satu terserang oleh penyakit, tidak mudah menyebar langsung ke kolam yang lain.  Saluran air secara paralel pada setiap kolam atau wadah budidaya sudah tersedia masing - masing saluran pemasukan dan pengeluaran air.  Berbeda dengan saluran air sistem seri, karena air yang ada pada satu kolam dialirkan lagi kekolam yang lain sampai seluruh kolam yang ingin diairi terpenuhi, karena kolam yang satu dengan kolam yang lainnya mempunyai saluran yang menyatu sehiungga penyebaran penyakit mudah terjadi.
10.  Seleksi Umur dan Padat Tebar
Seleksi ini dilakukan agar ikan tidak kanibal.  Selain itu juga perlu diperhatikan dosis dan waktu pemberian pakan untuk mencegah kanibal tersebut.
Upaya untuk memperhatikan ikan itu sendiri, yaitu :
1.  Manipulasi Genetik
      Dengan manipulasi genetik, kita dapat menghasilkan ikan dengan kualitas yang baik, seperti pertumbuhannya cepat dan tahan terhadap serangan penyakit.  Manipulasi genetik merupakan salah satu cara agar benih yang dihasilkan baik atau normal (tidak cacat).
2.  Imunisasi
      Imunisasi diberikan pada ikan untuk meningkatkan daya tahan tubuh ikan.  Vaksin dapat diberikan sewaktu memijah pada ikan dan akan berlanjut pada keturunannya (imunisasi pasif).
3.  Stress
      Stress adalah gejala fisiologis pada ikan yang kurang baik sehingga aktifitas ikan menurun.  Seperti nafsu makan, berenang dan metabolismenya.  Gejala stress dipengaruhi oleh saraf dan hormon dalam tubuhnya.
4.  Kepadatan
      Padat tebar dalam usaha budidaya haruslah sesuai sehingga kebutuhan ruang O² dan makan tidak kekurangan.  Untuk menebar benih perlu diperhatikan ukuran benih ikan, karena ukuran tertentu akan mempengaruhi padat tebar ikan itu sendiri.
      Pengobatan penyakit ikan sangatlah tidak disarankan, merupakan alternative terakhir, dengan pertimbangan yang seksama.  Teknik pengobatan yang dilakukan diagnosa yang tepat dan cepat, Jenis dan dosis efektif obat dan antibiotic , biaya dan ketersediaan, waktu dedah, peluang keberhasilan dan teknik aplikasi.  Teknik aplikasi dapat dilakukan dengan perendaman (diping, short bat, long bath di akuarium/kolam). Langkah sebelum pengobatan sebaiknya, ikan dipuasakan, gunakan bahan plastic untuk mencampur, cek kembali perhitungan dosis dan jumlah, lakukan pada suhu terendah,  percobaan skala kecil, evaluasi hasil percobaan,  pengulangan bila diperlukan dan dosis (mg/l) tergantung jenis sedianya obat serta teknik pemberian. 
Tabel 1. Penyakit, gejala pencegahan dan pengobatan  ikan jelawat
PENYAKIT
GEJALA
PENCEGAHAN/ PENGOBATAN
KETERANGAN
1. Trichodina
-       Terdapat bintik putih keabu-abuan pada kulit, insang dan sirip.
-       Produksi lendir bertambah sehingga tubuh terlihat mengkilat
-       Sirip kuncup, menyendiri dan nafsu makan merosot.

-       Pencegahan: menjaga kualitas air dan diberi ekstrak sambiloto

-       Pengobatan : merendam ikan yang terserang  dalam larutan garam 30 ppm. atau larutan formalin 15 ppm

Perendaman ekstrak daun sirih

Bila ada luka diberikan daun jambu biji

2. Ichthyophtirius multifiliis
-       Ikan banyak mengeluarkan lendir
-       Bagian tubuh yang terinfeksi terlihat adanya bintik- bintik putih (kulit, sirip dan ingsang)
-       Ikan mengosok- gosokan tubuh ke dasar kolam/ benda keras lainnya.

-   Pencegahan: ikan yg baru didatangkan sebaiknya dikarantina terlebih dahulu dan diberi ekstrak sambiloto

-    Pengobatan: ikan yang terserang dimasukan ke dalam media air mengalir, secara kimiawi dapat dilakukan NaCL 100 ppm selama 1 jam

Perendaman ekstrak daun sirih

Bila ada luka diberikan daun jambu biji

PENYAKIT
GEJALA
PENCEGAHAN/ PENGOBATAN
KETERANGAN
3. Dactylogyrus
-    Menyerang bagian epidermis terutama sisik ikan
-    Frekuensi pernapasan meningkat, Produksi lendir meningkat, insang rontok, tutup insang selalu terbuka
-          Pencegahan : sebelum digunakan kolam didesinfektan dan diberi ekstrak sambiloto
-          pengobatan: secara kimiawi:Formalin 200 ppm selama 10 menit

Perendaman ekstrak daun sirih

Bila ada luka diberikan daun jambu biji

4.    Achlya
-      Menyerang pada telur dan benih yang lemah
-      Parasit ini menerobos kulit bagian dalam dan masuk ke otot daging bahkan tulang- tulang
-      Serabut spt kapas pada kulit

-       Pencegahan : sebelum kolam digunakan didesinfektan dan pengontrolan kualitas air dan diberi ekstrak sambiloto

-       Pengobatan : Formalin 200 ppm selama 10 jam

Perendaman ekstrak daun sirih

Bila ada luka diberikan daun jambu biji

5.    Aeromonas
-       Bahan organic tinggi
-       Warna tubuh menjadi gelap
-       Ingsang rusak
-       Pendarahan pada pangkal sirip, ekor, dan bagian lainnya
-       Sirip lepas, luka dan borok.
-       Mati lemas dipermukaan air.

-       Pencegahan : desinfektan alat dan sanitasi, pengontrolan kualitas air, dan diberi ekstrak sambiloto

-       Pengobatan : perendaman  PK 20 ppm 30- 60 menit.

Perendaman ekstrak daun sirih

Bila ada luka diberikan daun jambu biji

DAFTAR PUSTAKA
http :// www.dkp.go.id/content.php?c= 550. Informasi Teknologi Budidaya  Ikan Jelawat. 01/09/03
Maksoem,S.O,. dkk. 2000.”Peta Geografis Penyebaran Penyakit Ikan Air Tawar”. Direktorat Jendral Dinas Perikanan dan Kelautan. Jakarta.
Syofan dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Jelawat Sehat Produksi Meningkat”.Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Yuasa.K,. dkk.2003. ” Paduan Diagnosa Penyakit Ikan Air Tawar “.JICA. Departemen Kelautan dan Perikanan.

TEKNIK PENGGARAMAN IKAN

  Penggaraman merupakan cara pengawetan ikan yang banyak dilakukan oleh pengolah ikan. Ikan yang diawet dengan garam disebut ikan asin. Ga...