Jumat, 20 Juli 2018

PEMBENIHAN IKAN JELAWAT

PEMBENIHAN IKAN JELAWAT


Sekarang ini di Indonesia, budidaya ikan air tawar memegang peranan penting sebagai salah satu sumber protein bagi masyarakat.  Sementara budidaya laut merupakan salah satu usaha yang penting untuk pendapatan luar negeri. 
          Budidaya ikan air tawar terutama ikan Jelawat mengalami peningkatan produksi disemua negara karena ikan-ikan ini memiliki nilai jual bagi pembudidaya untuk mendapatkan uang dengan teknik sederhana dan investasi kecil.
          Namun ada beberapa kasus kematian pada tiap spesies yang berupa infeksi yang menjadi kendala dalam budidaya.  Pengendalian penyakit ikan akan semakin penting dibandingkan sebelumnya karena usaha budidaya akan menguntungkan bila penyakit ikan dikendalikan.

Klasifikasi Ikan Jelawat
Class                 : Pisces
Sub class           : Tolestei
Ordo                 : Ostariophysi
Sub ordo           : Cyprinoidea
Family               : Cyprinidae
Sub Family         : Cyprininae
Genus               : Leptobarbus
Spesies              : Leptobarbus hoevani
Nama lain          : Lemak, Klemak( Sumatra)
                          Manjuhan ( Kalimantan Tengah)
                                        Jelawat (Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan timur)
Bentuk Tubuh
          Ikan jelawat mempunyai sisik yang besar- besar  ini mempunyai bentuk badan yang memanjang indah seperti torpedo dan berenang sangat cepat.  Reaksinya terhadap sesuatu rangsangan dari luar cekatan.  Mulutnya lebarnya terletak di ujung moncongnya agak ke bawah, dan dapat dijulurkan ke depan seperti bibir- bibir ikan karper.  Ikan jelawat mempunyai empat kumis.
           Badannya berwarna coklat kehitam - hitaman di bagian punggungnya, dan putih keperak - perakan di bagian perutnya, sedangkan sirip- siripnya dan ekornya berwarna merah. Dibandingkan ikan karper, Ikan Jelawat ini memang lebih menarik, karena bentuk tubuhnya yang gagah indah, dan warnanya yang berseri-seri. Di waktu muda, pada sisi badannya ada garis hitam yang memanjang dari kepala ke pangkal sirip ekor, tetapi kalau sudah tua, garis itu hilang.
Habitat dan Makanannya
           Sebagai ikan di sungai, ikan jelawat hanya terkenal mendiami perairan bebas Kalimantan dan Sumatra, sedangkan pulau lain tidak diketemukan.  Tempat- tempat yang mereka senangi adalah bagian-bagian sungai yang banyak tunggul yang terbenam dalam air atau bagian- bagian lain yang dinaungi pohon besar, terutama pohon- pohon yang buahnya dapat mereka makan bila jatuh ke air. Misalnya buah Tengkawang, bijinya banyak mengandung lemak, biji karet, atau bunga- bunga di permukaan air seperti kambing menyikat rumput. Ikan jelawat tergolong ikan pemakan segala- galanya, makanan antara lain umbi singkong, daun pepaya, ampas kelapa, dan daging- daging ikan yang telah dicincang.
          Dari bentuk tubuhnya yang memanjang seperti torpedo dapat diketahui mereka adalah perenang cepat.  Ikan jelawat beruaya ke hulu pada setiap permulaan musim kemarau (Juni - Juli) kalau permukaan air mulai turun. Sebaliknya, mereka akan beruaya ke hilir pada setiap permulaan musim hujan (Desember - Januari) kalau permukaan mulai naik.  Hal ini dilakukan oleh ikan- ikan sudah dewasa.
          Tempat- tempat yang dituju saat beruaya ke hilir ini selalu bekas - bekas daerah kering yang baru saja tergenang air.  Di tempat itulah terdapat makanan- makanan yang disukai. Dan mereka pun umumnya lebih gemuk daripada di waktu-waktu lain diluar musim hujan.
          Pada saat-saat jelawat beruaya inilah (umumnya berlangsung pada malam hari) para nelayan menangkap secara besar- besaran.  Memang pada saat - saat demikian ikan mudah diketahui tempatnya, karena timbulnya julur - julur di permukaan liar.
Pematangan Gonad
·       Induk dipelihara dalam kolam khusus berukuran 500-700 m2 penebaran 0,1-0,25 kg/m2
·       Selama pemeliharaan, induk diberikan pakan pelet dengan kandungan protein 25-28%
·       Pakan diberikan sebanyak 3 % dari total berat badan dengan frekwensi 2-3 per hari
·       Selain pelet diberikan juga pakan berupa hijauan seperti daun singkong secukupnya
·       Lama pemeliharaan induk lebih kurang 8 bulan
·       Induk yang siap pijah diperoleh dengan cara seleksi
Pemijahan
Pemijahan jelawat dapat dilakukan secara alami dan buatan. Dalam paket teknologi ini dilakukan pemijahan buatan.
1) Ciri induk matang gonad
·      Induk jelawat betina matang gonad dengan ciri bentuk perut agak menggelembung ke arah anus, bila dipijit terasa lembut.
·      Induk jelawat jantan matang gonad dengan ciri sirip dada terasa kasar, bila dipijit bagian testis mengeluarkan sperma.   .
2) Alat:
·      Jaring, hapa, serok, baskom, alat suntik, bulu ayam, corong penetasan telur, akuarium, corong tetas artemia.
3) Bahan
·      Induk jantan dan betina matang gonad
·      Hormon Ovaprim
4) Metode:   
·      Pemijahan secara buatan (induced breeding):
·      Induk terseleksi perlu diberok selama satu hari
·      Penyuntikkan dengan hormon ovaprim dosis 0,5 ml/kg/induk.
·      Penyuntikkan I pada induk betina 1/3 dari dosis dan penyuntikkan II sebanyak   2/3 dari dosis.
·      Penyuntikkan pada induk jantan hanya satu kali bersamaan penyuntikkan II pada induk betina.
·      4 - 7 jam setelah penyuntikkan II, induk sudah ovulasi dan dapat dilakukan stripping.
·      Pembuahan telur dilakukan dengan mencampurkan sperma dan telur di baskom plastik
·      Jika telur telah mengembang,  siap untuk disimpan dalam wadah penetasan
Penetasan
·       Penetasan telur dalam wadah inkubasi berbentuk corong dengan diameter     60 cm dan tinggi 50 cm.  Padat tebar 400 - 500 butir telur per liter
·       Selama penetasan air harus dijaga kualitasnya (O2 4 - 8 ppm; pH 7,0 - 8,0 ; suhu 25 - 28 derajat 0C)
·       Pada suhu air 25 - 28 derajat 0C telur akan menetas 18-24 jam setelah pembuahan.
Hasil
·       Fekunditas berkisar 29.000 - 44.000 butir telur/Kg induk,  fertilisasi 80%, dan Hatching Rate (derajat penetasan) 70%.
Pemeliharaan Larva
·       Larva dipelihara langsung ditempat penetasan telur
·       Cangkang dan telur yang tidak menetas dibersihkan secara penyiponan
·       1 - 2 hari setelah menetas, telur dapat dipindahkan ke akuarium
·       Hari ke 3 larva diberikan pakan Nauplii Artemia (yang baru menetas) secukupnya
·       Pemberian pakan 3 kali sehari (pagi, siang ,sore)
·       Hari ke 7 setelah menetas benih ikan siap untuk didederkan di kolam.
Pendederan
·       Persiapan kolam meliputi pengeringan 2 - 3 hari, perbaikan pematang, pembuatan saluran tengah (kemalir) dan pemupukan dengan pupuk kandang sebanyak 500 - 700 gr per m2. Kolam diisi air sampai ketinggian 80 - 100 cm. Pada saluran pemasukan dipasang saringan berupa hapa halus untuk menghindari masuknya ikan liar.
·       Benih ditebarkan 3 hari setelah pengisian air kolam dengan padat penebaran 100 - 150 ekor/m2.
·       Benih ikan diberi pakan berupa tepung hancuran pelet dengan dosis 10 - 20% /hari yang mengandung lebih kurang 25% protein
·       Lama pemeliharaan 2 - 3 minggu
·       Benih yang dihasilkan ukuran 2 - 3 cm dan siap untuk pendederan lanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
http :// www.dkp.go.id/content.php?c= 550. Informasi Teknologi Budidaya  Ikan Jelawat. 01/09/03
http://dunia-perairan.blogspot.com/2012/08/ikan-jelawat.html
Maksoem,S.O,. dkk. 2000.”Peta Geografis Penyebaran Penyakit Ikan Air Tawar”. Direktorat Jendral Dinas Perikanan dan Kelautan. Jakarta.
Syofan dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Jelawat Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Yuasa.K,. dkk.2003. ” Paduan Diagnosa Penyakit Ikan Air Tawar “.JICA. Departemen Kelautan dan Perikanan.

PENGEMASAN PRODUK PERIKANAN

PENGEMASAN PRODUK PERIKANAN


PENGERTIAN
Pengemasan merupakan suatu cara atau perlakuan pengamanan terhadap bahan pangan, agar bahan pangan baik yang belum maupun yang telah mengalami pengolahan, dapat sampai ke tangan konsumen dengan “selamat” (secara kuantitas & kualitas).

DASAR HUKUM PENGEMASAN PRODUK HASIL PERIKANAN
1.      UU No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan
2.      UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
3.      UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dan UU No. 45 Tahun 2009 tentang: Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
4.      UU RI No. 15 Tahun 2001 tentang Merk
5.      UU No. 14 Tahun 2001 tentang Paten
6.      Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1999 tentang Pelabelan dan Iklan Pangan
7.      Kep. Menteri Kelautan dan Perikanan RI No.  KEP.01/Men/2007 tentang Persyaratan Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan pada Proses Produksi, Pengolahan dan Distribusi

PENURUNAN MUTU/KERUSAKAN PRODUK SELAMA PENYIMPANAN
1.  Faktor-faktor penyebab   
- Teknik pengolahan
- Sanitasi hygiene      
- Kondisi penyimpanan
- Teknik pengemasan
- Bahan pengemasan
2.   Penurunan mutu dan kerusakan dapat berupa
- ikan patah/hancur
- Oksidasi lemak – rancidity/ketengikan
- Perubahan warna
- Tumbuh kapang/jamur, mikroba pembusuk dan patogen
- Nilai protein rendah

FUNGSI, SYARAT & JENIS KEMASAN
1.   Fungsi
a. Wadah produk
Fungsi :
- Penahan produk selama tranpotasi
- Mempermudah pengangkutan
- Supaya produk tidak berantakan

b. Pelindung produk
Fungsi :  Melindungi produk agar tetap awet dari uap, oksidasi,  serangga, rodentia

c. Presentasi produk – media komunikasi & informasi
Menarik perhatian konsumen, dengan melihat :
•    Penampakan kemasan,logo dll
•   Sumber informasi produk : waktu kadaluwarsa, izin Depkes, halal - MUI dll
•   Memuat pesan-pesan dari produsen : Nilai gizi, cara memasak dan menyimpan

2.   Syarat-syarat bahan pengemas  
•   Tidak bersifat meracuni produk 
•   Dapat melindungi produk dari tumpahan, penguapan, kotoran, serangga dan mikroba 
•   Persyaratan fisik pengemas harus tahan retak, kikisan, gesekan, perubahan suhu, cuaca dan kelembaban

3.   Jenis kemasan
a.    Berdasarkan frekuensi pemakaian
- Kemasan sekali pakai
           ex : plastik, karton, daun, kaleng hermetis
- Kemasan yang dapat dipakai berulang kali
           ex : botol minuman, kecap
- Kemasan yang tidak dibuang dan tidak dikembalikan
           ex : botol plastik, kaleng susu dll
b.   Berdasarkan struktur sistem kemas 
- Kemasan primer : kemasan yang mewadahi produk
- Kemasan sekunder : kemasan yang melindungi kemasan primer
- Kemasan tersier : kemasan yang melindungi kemasan  primer/sekunder.  ex : kargo, peti logam pallet dll
c.    Berdasarkan sifat kehalusan   
- Elastis : plastik, kertas, foil dll
- Kaku, keras dan tidak lentur : kaca, gelas, logam, kayu dll 
- Semi kaku/semi fleksibel : botol plastik
d.   Bahan pengemas
 - Kaleng :  tebal 0,2 –0,4 mm, komposisi kimia :  belerang, pospor, silisium, mangan
 - Botol (jar) : terbuat dari 70 – 75 % natrium dan kalsium silikat, 6 – 12 % kalsium dan magnisium oksida 
 - Karton  : dilapisi lilin untuk produk beku
 - Plastik : LDPE (low density Polyethilene), HDPE (high density polyethilene), PVDC (polyvenilidene chlorida), metalized polyethylene terephthalate (PET), almuium foil dll

JENIS PLASTIK
Jenis plastik
Fungsi
LDPE (low density Polyethilene)
Pembatas uap air dan oksigen
HDPE (high density polyethilene)
Pembatas uap air dan oksigen
PVDC (polyvenilidene chlorida) dgn
dilapisi selofan/almunium (metalize) atau PVDC glassin
Memiliki pembatas untuk uap air, oksigen dan tahan lemak
 PET polyethylene terephthalate
Memiliki pembatas untuk uap air, oksigen, dan tekanan tinggi
Almunium foil
Sda
Polyolefin
Sda
Ethylene high vinyl alcohol copolymer
Sda
Polypropylene
Pembatas uap air

PENGEMASAN PRODUK PERIKANAN
a.  Ikan hidup :
- Dikemas tanpa menggunakan air
- Steoform yang dilapisi media yang dapat menahan kelembaban (tranpotasi < 4 jam)
- Dikemas dengan media air                            
- Container terbuka dengan media air dengan pengaturan suhu
- Kantong plastik PE dan dibungkus karton 

b.  Ikan segar :
- Utuh segar : Box insulasi/steoform, metode bulk/disusun dengan pelapisan es dengan suhu < 10 oC 
- Fillet/mince segar :
-  untuk ke UPI : plastik PE dan box insulasi/steoform dengan pelapisan es disekeliling kantong, suhu < 10 oC
-  untuk fillet ke supermarket : tray (foam polystyrene/polystyrene transparan dengan bagian atas ditutup dengan plastik semi moisture proof cellophane

c.  Produk beku :
- Metode pengemasan sistem vakum dan non vakum
- Syarat bahan pengemas
Ø Bersifat tahan air dan penyerapan oksigen rendah
Ø Kuat, elastis, tidak pecah atau robek pada proses pembekuan  atau penyimpanan dalam gudang beku
Ø Tidak menyerap bau khas ikan atau bau dari luar
Ø Mudah ditutup erat (sealable)
Ø  Mengkilap dan transparan

Contoh : Cellophane, Polyethylene, Aluminium foil, Cryuvac atau Vinylodene Chloride

d. Produk Pasta Ikan (Fish Jelly Products)
Ø  Sosis : 
Produk dimasukkan kedalam film PVDC atau cellophane u/direbus Pengemasan menggunakan plastik HDPE dalam kondisi vacuum dan LDPE untuk non vacuum untuk disimpan dalam gudang beku
Ø  Bakso/otak-otak/kaki naga/surimi
Dikemas dengan PE secara vacuum kemudian dibekukan atau PE tanpa vacuum langsung dibekukan 
Ø  Pengemasan untuk dipasarkan ke supermarket :
Pengemasan vakum, Overwrap, Pengemasan dalam wadah dalam kondisi beku

e. Produk kering
Produk kering (asin, abon dll) dapat dikemas dalam kantung plastik
- PP (polypropilene) untuk kadar air rendah (kerupuk)
- PE (polyethilene) untuk keripik matang, abon, jambal
- Almunium foil untuk cumi/ikan kering
- Mika 0,70-0,80 untuk produk ikan kering
- Metode pengemasan umumnya sealer (non vacuum)

f. Produk sterilisasi 
Produk sterilisasi dengan retort diperlukan kemasan yang tahan terhadap tekanan seperti kaleng, dan plastik tahan panas (retort pouches) seperti - PET,almunium foil  P (polypropilene), Polyolefin dan Ethylene high vinyl alcohol copolymer

FUNGSI PENGHAMPAAN UDARA DALAM KEMASAN
Fungsi : mengeluarkan udara didalam kemasan yang akan menganggu kemunduran mutu produk seperti (tengik, busuk, berubah warna, berjamur dll).

Syarat produk  :
Ø  Kuat dan tidak berubah selama pengemasan 
Ø  Berkadar air > 40 % (pindang, presto, asap, bakso dll)
Ø  Berkadar air < 5 % (snack ikan)  
Ø Produk berlemak : minyak ikan, abon, produk yang digoreng

Teknik penghampaan :
Ø  Vacuum (mengeluarkan udara dengan sistem penghisapan)
Ø  Memasukkan gas N2/CO2
Ø  Pemanasan produk dalam kemasan
Ø  Memperangkap udara dalam kemasan

UJI KUALITAS PRODUK SETELAH DIKEMAS
1)  Pengujian Organoleptik
2)  Indikator Kesegaran
3)  Tes kadar Histamine
4)  Tes Residu and Kontaminan
5)  Pengujiian Mikrobiologi
6)  Tes Parasit
7)  Tes produk perikanan beracun





PELABELAN

1)  Identifikasi MERK / BRAND
2)  Informasi Produk
3)  Promosi





Hasil Inovasi Pengemasan Dan Pelabelan Makaroni Patin


 1.         Namaproduk (A),
2.         Bahan-bahan yang digunakan (B),
3.         Nama UMKM/industrisebagaiprodusen (C),
4.         Nomor IRT (D) oleh Dinas Kesehatansetempat.
5.         Motto (E),
6.         Brand/merk (G),
7.         Masa kedaluarsa (H)
8.         Beratproduk (C),
9.         Label halal ditetapkan oleh MUI dan
10.     Informasigizi (J) yang diperolehdarihasilanalisis di laboratorium yang terakreditasi


Sumber: 
Balai Besar Pengujian Penerapan Hasil Perikanan BBP2HP
Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP)

Jumat, 13 Juli 2018

MANAJEMEN AIR PADA BUDIDAYA LELE BIOFLOC (Standart Operational Procedure)

MANAJEMEN AIR PADA BUDIDAYA LELE BIOFLOC (Standart Operational Procedure)



1.
PERSIAPAN MEDIA

a.
Desinfektan (suci hama) Kolam


·      Disinfeksi dg menggunakan chlorine (kaporit)
Kolam diisi penuh, larutkan chlorine 30 ppm diamkan selama 3 hari agar efek chlorine bisa teroksidasi, untuk mempercepat oksidasi gunakan aerasi yang kuat atau bila kolam full terkena sinar matahari dalam waktu 3 hari efek chlorine akan hilang
·      Tujuan disinfektan adalah mensterilkan organisme di kolam terutama bakteri pathogen dan parasit yang mengganggu pertumbuhan ikan.


b.
Ketinggian air minimal 80-100 cm


·      Rentang perubahan suhu rendah, sehingga suhu relatif stabil
·     Toleransi tingkat kejenuhan media tinggi (air tidak mudah jenuh oleh sampah organik)
·      Ruang yang lebih luas memungkinkan ikan bergerak lebih bebas


c.
Penggaraman dengan garam krosok


·      Menstabilkan komposisi kimia air/reaksi kimia air sudah selesai
·      Penggaraman 3 kg/m³ (maksimal 5 promill), untuk menghambat pertumbuhan parasit dan bakteri pathogen
·      Stabilisasi kimia air dan pH air
·      Mineral yang terkandung di garam sangat berguna untuk pertumbuhan bakteri
·      Mineral garam juga sangat berguna untuk mengikat ion nitrit



Pemberian molase
·      Pemberian molase di awal sebanyak 50-100ml/m3 di awal bertujuan:
·  Menghambat pertumbuhan plankton (Blue Green Algae) sehingga tidak mendominasi media (menghindari air hijau)
·   Pemberian molase diawal juga bertujuan menaikkan kompisisi C:N ratio menjadi tinggi sehingga memungkinkan untuk bakteri heterotroof untuk segera mendominasi media.


Catatan kasus kematian benih pada awal tebar:
penyebab bisa macam2. misal, beberapa hari setelah tebar kena hujan, planktonnya goncang, amonia naik juga biosa menyebabkan kematian spt itu. serangan parasit protozoa (trichodina, ichthyopthirius, dll), cacing (dactilogyrus, gyrodactilus ) juga bisa menyebabkan kematian spt itu, yg biasanya semakin ganas saat cuaca dingin. dan kemungkinan masih banyak lagi. Serbetul. biasanya, saat cuaca dingin atau hbs hujan dimana plankton mati (amonia tinggi) nafsu makan ikan turun dan ikan menjadi lemah. saat inilah trichodina menyerang. ikan menggantung selanjutnya banyak makmum yang mengikuti.

2.
APLIKASI PROBIOTIK

a.
Probiotik


Beberapa bakteri dalam bentuk konsorsium diberikan dengan maksud koloni bakteri yang akan tumbuh di kolam kita yang mengatur, sesuai dengan fungsi yang kita harapkan.


b.
Bakteri yang diaplikasikan :


-    Bacilus substilis
-    Bacilus polymixa
-    Bacilus megaterium
-    Bacilus plantarum
-    Bacilus thermopillic


c.
Air dikondisikan 5-7 hari


Populasi bakteri pendukung (dekomposer)  mendominasi media


d.
Intensitas dan dosis aplikasi probiotik


-    Persiapan media 5 cc/m³
-    Pada saat tebar benih 2 cc/m³
-    Selanjutnya pada hari ke-7, 14, 19, 24, 28, 32, 36, 40, 43, 46, 49, 52, 54, 56, 58, 60 masing-masing 2 cc/m³
-     

e.
Fermentasi pakan dengan probiotik 2 cc/ kg pakan, selama 2-3 hari, ditutup untuk menghindari kontaminator


Fermentasi pakan dilakukan dengan cara:
Mencampur 1 kg pakan dengan 300ml air yang dicampur probiotik 2 cc, diaduk-aduk kemudian diperam selama 2hari maksimal 7 hari.
Tujuan fermentasi pakan:
§  Memotong rantai peptide protein dari rantai panjang protein
§  Bakteri akan memanfaatkan protein, sehingga bakteri akan berkembang di pakan (substrat)
§  Pemanfaatan serat oleh bakteri selulolitik dan diubah menjadi protein
§   
3.
KONTROL KUALITAS AIR

a.
Dominasi plankton dan zooplankton


-    Warna         : hijau muda cerah – hijau tua pekat
-    Bau              : tidak berbau – bau lumut


Pada saat dominasi plankton ada kondisi dimana pada saat siang oksigen terlarut di air sangat tinggi (DO) yang dihasilkan oleh fotosintesis dari fitoplankton, akan tetapi pada saat malam plankton akan menggunakan oksigen sehingga DO turun, bahkan DO dikolom terbawah air mendekati Nol
Kondisi perbedaan DO yang ekstrim akan membuat ikan bekerja keras untuk aklimatisasi dan menguras banyak energi ikan, sehingga pakan yang dimakan ikan tidak sepenuhnya untuk pertumbuhan, sehingga pertumbuhan lambat.
Pada masa dominasi ini banyak tedapat algae yang termasukplankton (phytoplankton = plankton yang bersifat tumbuhan dan bisa berfotosintesis). kalo plankton yang bersifat hewan =zooplankton, plankton yang hidup dari sampah (bhn organik disebut saproplankton (termasuk bakteri dan jamur). plankton sendiri didefinisikan sebagai jasad renik yg hidup melayang-layang dalam air, bergerak sedikit/tidak bergerak dan selalu mengikuti arus.
Pada fase ini kita perlu berhati-hati terhadap Blue Green Algae (BGA), yang muncul dan dominan karena lingkungan mendukungnya. Dalam hal ini jenis fitoplankton lain tidak tumbuh. Misalnya N/P ratio rendah (miskin mineral), BGA tetap tumbuh krn bisa mengikat N dr udara. Sinar matahari cukup. Jadi utk menekan perkembangan BGA (selain ganti air) adalah menambah N (pupuk ZA jangan urea), aplikasi probiotik dan kurangi sinar yg masuk ke kolam dengan menutup sebagian atau seluruh atas kolam
Cirinya, air akan berwarna hijau gelap/tua, kadang permukaan berlendir, bisa mempengaruhi nafsu makan (nafsu makan turun) dan muncul kotoran putih yang mengambang di permukaan (untuk lele ukuran pendederan - besar). karena terjadi infeksi pada pencernaan (hemocytic enteristik)
Bila terjadi overbloom (terlalu pekat) bisa digunakan bhn kimia perusi (copper sulfat) 0,1 - 0,5 g/m3. atau bahan yg mengandung bhn aktif copper sulfat, adapun dosis mengikuti petunjuk obat tsb.
untuk kolam tanah, bisa menggunakan liat yg diencerkan hingga cair kemudian ditebar secara merata dipermukaan kolam. air spt warna sungai banjir. dgn demikian, BGA akan terikat oleh liat dan mengendap, disamping itu, permukaan yg keruh akan mengurangi/menghalangi sinar matahari shg perkembangan BGA bisa dihambat.
plankton tersebut memang bisa tumbuh di perairan sekritis apapun dan semiskin apapun. sifatnya kosmopolitan.. mudah hidup dimana-mana dlm kondisi apapun. plankton lain nggak bisa hidup plankton ini mudah beradaptasi dimana saja. Sungguh tanda kebesaran ILLAHI. asal ada sedikit P, dia bisa hidup krn bisa ambil N dr udara.


b.
Dominasi bakteri pengurai


-    Warna         : coklat teh – coklat muda – coklat pekat
-    Bau              : tidak berbau – bau asam amino
Pada masa ini bakteri sudah mendominasi media, pada saat ini komposisi C:N ratio diharapkan berada di atas 15, sehingga bakteri mampu memanfaatkan ammonia.


c.
Dominasi bakteri photosintetic


-    Warna         : coklat keruh – merah muda cerah
-    Bau              : asam amino atau bau asam (kecut) 
Pada masa dominasi bakteri fotosintetik, air cenderung berwarna merah-ungu, pada masa ini bakteri PSB tidak banyak mengkonsumsi oksigen (microaerofil) sehingga penambahan unsure carbon bisa dikurangi
Rumus kimia dominasi bakteri fotosintetik
6 CO2 + 12 H2S -- C6H12O6 + 6 H2O + 12 S + energi (kalor)
Jadi bakteri fotosintetik dapat menetralkan racun karena bisa menggunakan Amonia (NH3, NH4+), menghilangkan H2S yang ada dalam air.
Makanya air yang warnanya merah ungu – merah coklat ikan cenderung sehat
jenis plankton ini, bisa menyerap amonia dan H2S,  masalah utama dalam akuakultur yang sering menimbulkan kematian. maka bila warna air ini sudah terbentuk tinggal menjaga kestabilannya, Inilah yang disebut bakteri fotosintetik (PSB) yaitu jenis bakteri yang bisa berfotosintesis tetapi tidak menghasilkan oksigen.
Perhatian :
Hati-hati pada saat pergantian warna air/pergantian dominasi, pada masa ini porsi makan dikurangi 30-50 % dari porsi biasanya, untuk mengurangi tumpukan limbah organic.
Disamping dibaca dari perubahan warna dan kekeruhan, kualitas air dibaca dari perilaku ikan:
Media baik : ikan aktif bergerak, cenderung dibawah, nafsu makan tinggi
Media jelek: ikan lamban, nafsu makan turun, ikan cenderung menggantung di permukaan



Bila media sudah tidak nyaman, segera lakukan pergantian air maksimal 30%, atau dengan penambahan dekomposer

4.
INDIKATOR KUALITAS AIR

a.
Air Sehat


-       Warna cerah, tidak terlalu pekat, tidak berminyak
-      Perilaku ikan : aktif bergerak, nafsu makan tinggi, pada saat siang hari ikan berada didasar kolam
-       Air tidak berbau → bau asam amino
-        Air tidak sehat - Warna kusam, pekat, permukaan berminyak
-       Akibat dominasi Blue Green Algae
-    Perilaku ikan : gerakan lamban, menggantung dipermukaan atau pinggir kolam, nafsu makan kurang
-       Bau menyengat → amoniak atau anyir


b.
Pergantian air


-       Situasional, selama ikan merasa nyaman sehat air tidak perlu diganti
-     Pergantian air Maks 30%, untuk menghindari goncangan media yang dapat menyebabkan ikan stress dan mengalami penyusutan berat badan
-    Air yang diganti lapisan paling bawah, kualitas air bawah rendah dengan kandungan amonia dan nitrit tinggi
-  Pergantian dengan cara sirkulasi, untuk menghindari perubahan yang ekstreem dan membuat ikan stress

 Sumber: 
- Komunitas Masamo Pekalongan. 2013. Budidaya Lele Biofloc (Standart Operational Procedure). Pekalongan
- http://www.alpatil.com/sistem-ternak-lele-secara-bioflok/

TEKNIK PENGGARAMAN IKAN

  Penggaraman merupakan cara pengawetan ikan yang banyak dilakukan oleh pengolah ikan. Ikan yang diawet dengan garam disebut ikan asin. Ga...